JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sumenep memasuki fase akselerasi. Infrastruktur pendukungnya, berupa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur sehat, kini tumbuh masif dan merata. Hingga Januari 2026, jumlah SPPG di Sumenep telah mencapai 77 titik, dengan 43 di antaranya sudah aktif beroperasi.
Capaian ini menandai penguatan serius pemerintah dan pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem pemenuhan gizi yang berkelanjutan, terutama bagi anak-anak sebagai kelompok penerima manfaat utama.
Koordinator Wilayah SPPG Sumenep, M. Kholilur Rahman, mengungkapkan bahwa puluhan dapur sehat yang telah aktif kini menjadi fondasi operasional utama dalam distribusi makanan bergizi di berbagai wilayah, termasuk daerah kepulauan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saat ini 77 SPPG telah dinyatakan siap operasional, dan 43 di antaranya sudah aktif melayani penerima manfaat di sejumlah kecamatan, baik daratan maupun kepulauan,” ujar Kholilur Rahman, Selasa (13/1/2026).
Sebaran SPPG aktif mencakup Kota Sumenep, Batuan, Lenteng, Ganding, Bluto, hingga wilayah kepulauan, menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya terpusat di kawasan perkotaan, tetapi dirancang menjangkau wilayah dengan tantangan geografis tinggi.
Menurut Kholilur, keberadaan dapur sehat memiliki posisi strategis dalam rantai kebijakan peningkatan kualitas sumber daya manusia. SPPG tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi makanan, tetapi juga sebagai instrumen kontrol kualitas gizi.
“SPPG adalah tulang punggung program MBG, karena dari sinilah kualitas, keamanan, dan nilai gizi makanan ditentukan sebelum sampai ke anak-anak,” tegasnya.
Ia menjelaskan, proses penetapan setiap SPPG dilakukan melalui verifikasi ketat dan berlapis, mulai dari kelayakan bangunan, peralatan dapur, hingga kesiapan tenaga pengolah makanan. Standar tersebut diterapkan untuk memastikan tidak ada kompromi terhadap mutu makanan yang disajikan.
“Setiap dapur wajib memenuhi standar sarana, prasarana, dan sumber daya manusia. Ini penting agar kualitas makanan tetap terjaga dan konsisten di seluruh titik layanan,” pungkas Kholilur.
Ke depan, jumlah SPPG aktif di Kabupaten Sumenep ditargetkan terus bertambah seiring meningkatnya kesiapan lokasi baru dan dukungan lintas sektor. Ekspansi ini diharapkan mampu memperluas cakupan penerima manfaat sekaligus memperkuat dampak program MBG dalam menekan risiko kekurangan gizi dan meningkatkan kualitas kesehatan anak sejak dini.
Dengan pertumbuhan SPPG yang agresif dan terukur, Kabupaten Sumenep kini menempatkan diri sebagai salah satu daerah yang serius membangun fondasi ketahanan gizi berbasis layanan lokal, sejalan dengan agenda nasional peningkatan kualitas sumber daya manusia. (REDJAVA/$$$)









