JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir berdampak serius terhadap aktivitas pelayaran di Kabupaten Sumenep.
Sejumlah kapal yang bersandar di Pelabuhan Kalianget dan berbagai pelabuhan di kepulauan terpaksa tidak beroperasi akibat gelombang tinggi dan angin kencang.
Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalianget, Ari Widjajanto, mengatakan bahwa kondisi cuaca di perairan Madura, khususnya di wilayah Sumenep, masih belum stabil.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun ada tren penurunan ketinggian gelombang dalam beberapa hari ke depan, namun situasi di laut masih berisiko bagi pelayaran.
“Angin baratan yang menjadi simbol musim penghujan masih terus bertiup. Ini disebabkan oleh pusat tekanan rendah di Australia yang tetap aktif hingga akhir musim hujan,” kata Ari, Kamis (13/2/25).
Menurutnya, faktor angin tersebut berpengaruh langsung terhadap kondisi gelombang di perairan Sumenep. Beberapa wilayah masih mengalami gelombang tinggi yang membahayakan aktivitas pelayaran, terutama kapal-kapal yang menuju atau berasal dari kepulauan.
BMKG memprediksi bahwa dalam dua hari ke depan, kondisi laut berpotensi membaik. Namun, perubahan cuaca di perairan selatan Indonesia masih sangat dinamis.
Ari menjelaskan bahwa pusat tekanan rendah di selatan Australia bisa muncul silih berganti, menarik massa udara dari wilayah Asia dan berkontribusi terhadap perubahan cuaca yang tidak menentu.
“Karena situasinya terus berkembang, petugas Kesyahbandaran perlu melakukan pemantauan ketat. Jika tren penurunan angin terus berlanjut, maka sistem buka-tutup pelabuhan bisa diterapkan. Artinya, kapal-kapal akan diizinkan berlayar saat cuaca benar-benar memungkinkan,” tambahnya.
Sementara itu, pihak Kesyahbandaran bersama instansi terkait terus mengawasi perkembangan situasi di lapangan.
Mereka juga telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat dan operator kapal agar tidak memaksakan perjalanan sebelum mendapatkan izin resmi.
“Bagi masyarakat yang ingin bepergian menggunakan transportasi laut, sebaiknya bersabar dan menunggu informasi resmi dari otoritas pelabuhan. Keselamatan tetap harus diutamakan,” tegas Ari.
Tak hanya sektor pelayaran penumpang dan logistik yang terganggu, para nelayan di Sumenep juga merasakan dampak dari kondisi ekstrem ini.
Beberapa nelayan terpaksa tidak melaut karena risiko tinggi akibat gelombang besar. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi pasokan ikan dan harga jual hasil laut di pasar.
“Biasanya kalau angin dan gelombang seperti ini, nelayan memilih tidak melaut karena berbahaya. Kalau dipaksakan, takut kapalnya terbalik atau rusak,” kata salah seorang nelayan di Kalianget.
BMKG mengimbau agar masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna transportasi laut, selalu memperbarui informasi cuaca sebelum beraktivitas. Dengan kondisi yang masih fluktuatif, kesiapsiagaan menjadi faktor kunci dalam menghadapi cuaca ekstrem ini. (REDJAVA****)









