JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menunjukkan trend kenaikan di Kabupaten Sumenep seiring intensitas hujan yang terus meningkat. Penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti ini tidak lagi bisa dianggap ancaman musiman biasa. Desakan agar pemerintah bertindak lebih agresif pun menguat.
Bambang Supratman, S.H., mendorong pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan untuk menjadikan fogging atau pengasapan nyamuk sebagai program tahunan wajib setiap musim hujan, tanpa harus menunggu permohonan dari pemerintah desa.
“Fogging itu seharusnya otomatis dilakukan setiap musim hujan. Jangan menunggu ada korban atau surat permohonan dari desa, karena DBD ini bergeraknya cepat dan diam-diam mematikan,” kata Bambang dengan tegas kepada media ini, Rabu (31/12/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fogging merupakan metode penyemprotan insektisida berbentuk kabut halus yang bertujuan membunuh nyamuk dewasa pembawa virus DBD. Namun Bambang menegaskan, langkah ini tidak boleh berdiri sendiri. Upaya tersebut harus dibarengi dengan pemberantasan jentik nyamuk, karena fogging tidak mampu memutus siklus nyamuk secara menyeluruh.
“Kalau hanya fogging tanpa PSN, itu sama saja memotong ranting tapi membiarkan akarnya hidup. Jentik tetap berkembang dan DBD akan terus berulang,” ujarnya menambahkan.
Keprihatinan Bambang bukan sekadar wacana. Ia mengaku merupakan bagian dari keluarga korban DBD. Bahkan, setelah berkoordinasi dengan desa-desa se-Kecamatan Saronggi, terungkap fakta mencemaskan: sekitar 70 persen desa melaporkan warganya terjangkit DBD selama musim hujan.
“Kami bersyukur banyak yang tertolong, tapi bagaimana dengan yang tidak tertolong? Ini penyakit yang sangat jahat. Bahkan sebagian dokter menyebut DBD lebih berbahaya dari COVID-19 jika terlambat ditangani,” pungkasnya.
DBD dikenal menyerang secara tiba-tiba dengan gejala demam tinggi mendadak hingga 40 derajat Celsius, nyeri otot dan sendi, sakit kepala hebat, mual, hingga muntah. Tanpa penanganan cepat, penyakit ini dapat berujung pada kondisi kritis bahkan kematian.
Bambang berharap pemerintah tidak hanya berhenti pada imbauan kewaspadaan, tetapi mengambil langkah konkret dan berkelanjutan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus: menguras, menutup, mendaur ulang, serta mencegah gigitan nyamuk.
Dengan curah hujan yang masih tinggi, seruan ini menjadi peringatan keras bahwa DBD adalah ancaman nyata yang membutuhkan respons luar biasa, cepat, dan terencana, demi melindungi keselamatan masyarakat Sumenep. (REDJAVA****)









