JAVANETWORK.CO.ID, SUMENEP – Senja di Rumah Singgah Kepulauan Sumenep, Ahad, 9 Maret 2025, bukan sekadar pergantian waktu menuju malam. Ada getaran yang berbeda sebuah kehangatan yang menjalar, menyusup ke setiap hati yang hadir. Di balik dinding sederhana rumah singgah ini, bukan hanya aroma hidangan berbuka yang menggugah selera, tetapi juga lantunan doa yang mengalun syahdu, membungkus suasana dalam balutan kasih sayang dan keikhlasan.
Yayasan Ruang Pasien, sebuah lembaga yang selama ini menjadi sandaran bagi para pejuang kesehatan dari kepulauan, menggelar acara buka puasa bersama dan tasyakuran. Namun, ini bukan sekadar jamuan berbuka. Ini adalah momentum yang melampaui batas ruang dan waktu sebuah perwujudan nyata dari kepedulian, cinta, dan harapan yang tak bertepi.
Sejak pukul 16.00 WIB, gema ayat suci Al-Qur’an (Al-Baqarah: 183-185) yang dilantunkan Muslimin mengalir lembut, menggema di dalam ruangan. Kata demi kata seakan menyentuh relung hati setiap orang yang hadir, mengingatkan kembali makna puasa bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai perjalanan spiritual menuju ketakwaan yang lebih dalam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua panitia, Yudi Ananta, dengan suara bergetar, mengungkapkan bahwa acara ini bukanlah sekadar tradisi tahunan.
“Kami ingin mereka yang datang dari jauh, yang sedang berjuang melawan sakit, merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Rumah Singgah ini bukan hanya tempat berteduh, tetapi rumah dalam arti sesungguhnya rumah yang penuh kepedulian, doa, dan kasih sayang,” ungkapnya.
Sunarto, Koordinator Ruang Pasien Kepulauan (RPK) Sumenep, menambahkan bahwa rumah singgah ini telah menjadi cahaya harapan bagi banyak pasien yang harus menjalani pengobatan jauh dari keluarga.
“Kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar tempat beristirahat. Kami ingin mereka merasakan bahwa di sini, ada keluarga baru yang siap menemani dalam setiap detik perjuangan,” tuturnya dengan mata berbinar.
Sementara itu, Ketua Yayasan Ruang Pasien, Bambang Kuncoro Yekti, menegaskan bahwa bulan Ramadhan adalah saat terbaik untuk berbagi dan menguatkan satu sama lain.
“Di bulan yang penuh berkah ini, kita diajarkan untuk tidak hanya berbagi materi, tetapi juga empati. Kami ingin memastikan bahwa setiap pasien di rumah singgah ini tidak hanya mendapatkan perawatan medis, tetapi juga dukungan moral dan spiritual yang mereka butuhkan,” ujarnya.
Ketika bingkisan Ramadhan mulai dibagikan, keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Paket-paket sederhana itu bukan sekadar berisi makanan dan sembako, tetapi juga simbol cinta dan kepedulian. Mata-mata yang sebelumnya redup kini berbinar penuh syukur. Ada yang tersenyum tipis, ada yang mengusap mata yang mulai berkaca-kaca.
KH. R. Taufiqurrahman, yang hadir dalam acara tersebut, menyampaikan tausiyah yang menyentuh hati. Beliau menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum penyucian diri, peningkatan ketakwaan, dan kesempatan memperoleh rahmat serta ampunan dari Allah.
“Allah membentangkan kasih-Nya di bulan ini. Pintu rahmat dibuka selebar-lebarnya, pahala dilipatgandakan, dosa-dosa diampuni, dan di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan Lailatul Qadar,” tuturnya dengan penuh kebijaksanaan.
Beliau juga mengingatkan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sarana mendidik jiwa, menumbuhkan kesabaran, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah dan sesama manusia.
“Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperbanyak amal kebaikan. Jangan biarkan bulan ini berlalu tanpa makna. Mari kita manfaatkan setiap detiknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” pesannya.
Acara ditutup dengan doa bersama, dipimpin dengan penuh kekhusyukan. Dalam diam, setiap orang menundukkan kepala, mengamini setiap harapan yang dipanjatkan. Ada yang berdoa untuk kesembuhan, ada yang memohon kekuatan, ada yang sekadar bersyukur atas napas yang masih berhembus di bulan suci ini. (REDJAVA****)









