JAVANETWORK.CO.ID, SUMENEP – Di balik tembok tinggi yang membatasi kebebasan, ada cahaya yang perlahan menembus celah-celah jeruji.
Bukan sinar matahari yang menyilaukan, melainkan kilau ketenangan yang terpancar dari lembar-lembar mushaf Al-Qur’an.
Di sudut Rutan Sumenep, Masjid An-Nur menjadi saksi sebuah perjalanan spiritual yang tak biasa.
Puluhan warga binaan, dengan hati yang mungkin pernah gelap, kini tengah menapaki jalan pulang melafalkan ayat demi ayat, mengeja makna dari kitab suci yang dulu asing bagi mereka.
Suasana Rutan Sumenep pada Kamis (6/3/2025) terasa berbeda. Tak ada suara rantai atau derap langkah petugas yang mendominasi.
Sebaliknya, yang terdengar adalah lantunan ayat suci yang keluar dari bibir-bibir yang dulu mungkin lebih sering berucap kasar. Hari ini, mereka belajar mengeja kebaikan.
Program Mengaji dari Nol di Rutan Sumenep bukan sekadar agenda keagamaan. Ini adalah cahaya yang menuntun mereka kembali menemukan jati diri.
Bagi sebagian dari mereka, ini adalah kali pertama mengenal huruf hijaiyah, kali pertama menyentuh mushaf, bahkan kali pertama memahami bahwa ada kedamaian di balik ayat-ayat yang mereka baca.
Kepala Rutan Sumenep, Ridwan Susilo, menyebut program ini sebagai jembatan bagi warga binaan untuk kembali ke jalan yang benar.
Baginya, penjara bukanlah akhir segalanya. Justru di sinilah banyak yang menemukan titik balik hidup mereka.
“Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Penjara bukan hukuman selamanya, tapi kesempatan untuk berubah. Kami ingin mereka keluar dari sini bukan hanya sebagai mantan napi, tapi sebagai manusia baru yang membawa ilmu dan akhlak lebih baik,” ujar Ridwan Susilo.
Yang menarik, pembelajaran ini tidak hanya dibimbing oleh petugas rutan, tetapi juga oleh sesama warga binaan yang lebih dahulu fasih membaca Al-Qur’an.
Mereka menjadi mentor bagi teman-temannya, menciptakan suasana belajar yang lebih akrab, tanpa ada rasa malu atau takut.
“Di dalam masjid itu, tidak ada lagi status napi kriminal atau mantan pecandu. Semua duduk sejajar, sama-sama belajar, sama-sama berharap bahwa ketika pintu penjara terbuka, mereka akan keluar sebagai pribadi yang berbeda,” jelasnya.
Metode yang digunakan sangat mendasar. Dimulai dari Iqra untuk mereka yang bahkan tak mengenal huruf Arab sama sekali.
Dengan sabar, mereka mengeja setiap huruf, membentuk kata, hingga akhirnya mampu melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan lancar.
“Bagi mereka, ini bukan sekadar pembelajaran agama, tapi juga perjalanan menemukan diri sendiri. Ada yang dulunya kehilangan arah, tersesat dalam gelapnya kehidupan, kini menemukan harapan dalam lembaran-lembaran kitab suci,” ungkapnya.
Program ini memiliki target ambisius: 100 persen warga binaan Rutan Sumenep bisa membaca Al-Qur’an sebelum mereka bebas.
Bukan sekadar bisa membaca, tapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, agar kelak mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik di tengah masyarakat.
“Kami ingin mereka keluar dari sini membawa cahaya, bukan lagi bayangan kelam dari masa lalu mereka,” pungkas Ridwan.
Di balik jeruji, mereka mungkin kehilangan kebebasan fisik. Tapi di dalam hati, mereka sedang menemukan kebebasan yang lebih hakiki kebebasan dari gelapnya masa lalu, menuju cahaya kehidupan yang lebih baik.
Sumenep kini tak hanya memiliki rutan sebagai tempat pembinaan, tetapi juga sebagai rumah bagi jiwa-jiwa yang tengah mencari jalan pulang.(REDJAVA***)*












