JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di antara gemuruh tepuk tangan dan suasana haru Yudisium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Wiraraja Madura, sorotan mata tertuju pada seorang pria sederhana bersarung dan berpeci. Ia datang jauh-jauh dari Desa Talang, Kecamatan Saronggi. Wajahnya penuh harap dan haru. Dialah Bambang Supratman, seorang petani yang hari itu menyaksikan langsung putri pertamanya, Hana Jamilatul Aulia, S.M., dinyatakan lulus sebagai sarjana ekonomi.
Di depan mata Bambang, sang putri berdiri gagah dengan jas almamater kuning emas dan senyum menawan. Tapi bagi sang ayah, itu bukan sekadar senyum biasa itu adalah senyum yang dibangun dari malam-malam panjang tanpa listrik, dari kerja keras di ladang, dari doa-doa yang tak pernah putus, dan dari keyakinan bahwa pendidikan bisa mengubah garis hidup anak desa.
“Saya hanya petani, Pak… Tapi hari ini saya merasa jadi orang paling kaya. Putri pertama saya lulus kuliah. Ini bukan mimpi, ini kenyataan,” ucap Bambang kepada media ini, Rabu (30/07/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Putrinya adalah salah satu peserta Yudisium Tahun Akademik 2024/2025 yang mengusung tema: “Developing Synergies Towards Global Competitiveness and Social Responsibility: Quality, Integrity, and Impact.”
Tak sekadar mencetak lulusan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Wiraraja ingin menanamkan nilai karakter nasional dan tanggung jawab sosial. Dan sang putri petani ini telah memulainya bahkan sebelum gelar sarjana diraih.
Sepanjang masa kuliahnya, Hana Jamilatul Aulia, S.M. dikenal tekun, rendah hati, dan memiliki visi untuk kembali membangun desa. Ia ingin memberdayakan perempuan dan pemuda desa agar bisa berdikari, mengembangkan ekonomi lokal, dan keluar dari lingkaran kemiskinan.
“Saya kuliah bukan untuk lari dari desa, tapi supaya bisa pulang dan membawa perubahan. Saya ingin desa saya bangkit dari tangan-tangan anak muda yang terdidik,” tutur Hana sapaannya.
Momen pelukannya dengan sang ayah menjadi simbol kemenangan. Bukan hanya kemenangan atas ujian akademik, tetapi kemenangan atas keterbatasan, kesederhanaan, dan keteguhan hati. Pelukan itu menjadi bahasa cinta, bahasa syukur, dan bahasa panen—panen air mata kebahagiaan seorang petani.
“Selamat atas kelulusanmu! Jadikan ilmu yang telah diraih sebagai bekal untuk berkarya, mengabdi, dan memberi manfaat bagi sekitar. Tetaplah rendah hati, terus belajar, dan berjalanlah dengan keyakinan bahwa keberhasilan sejati bukan sekadar gelar, melainkan dampak yang kita berikan bagi orang lain terutama bagi tanah kelahiran yang membesarkan kita dengan doa dan peluh,” tutup Bambang Supratman. (REDJAVA****)









