JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di jantung perbukitan hijau Desa Pagar Batu, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, sebuah kisah luar biasa tengah berkembang.
Boekit Tawap Lengleng sebuah destinasi wisata yang tak sekadar memikat dengan keindahan alamnya, namun juga mengandung makna mendalam: sebuah simbol dari perjuangan, harapan, dan kebangkitan ekonomi masyarakat desa.
Nama Boekit Tawap, yang menggabungkan dua makna penting Tabungan Warga Pagar Batu dan Taman Wisata Alam Pagar Batu menggambarkan semangat kolektif yang telah mengubah sebuah tanah tandus menjadi jantung kebanggaan desa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Inilah cerita dari akar rumput yang bangkit, dimana warga Pagar Batu menyulam masa depan melalui kebersamaan dan kreativitas tanpa bergantung pada bantuan besar dari luar.
Enggang, Koordinator Destinasi Wisata Boekit Tawap, dengan penuh keyakinan menceritakan visi ini.

“Nama Boekit Tawap ini memiliki makna yang mendalam bagi kami. Ini bukan sekadar tabungan uang, tetapi tabungan masa depan. Sebuah harapan yang kami tabung bersama, untuk generasi yang akan datang,” ujar Enggang, saat dikunjungi oleh Tim Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sumenep di Balai Desa Pagar Batu pada Rabu (16/04/2026).
Boekit Tawap bukan hanya sekadar objek wisata. Ia telah tumbuh menjadi lambang semangat gotong royong yang menghidupkan kembali desa ini.
Dengan panorama alam yang memikat serta nilai-nilai kearifan lokal yang terjaga, destinasi ini telah menjadi ruang kolektif yang mempersatukan warga desa dalam usaha meraih masa depan yang lebih cerah.
Enggang yang juga Ketua BUMDES setempat menjelaskan, pembangunan Boekit Tawap tidak melibatkan investor besar atau bantuan korporasi.
Sebaliknya, warga desa, dipimpin oleh Kepala Desa Pagar Batu, Imam Daud, S.E., bersama-sama menyumbangkan tenaga, material, dan ide mereka demi mewujudkan impian ini.
“Kami ingin Boekit Tawap menjadi warisan hidup bagi anak cucu kami. Suatu ketika, mereka akan tahu bahwa desa ini berdiri tegak berkat keringat dan semangat kami,” jelas Enggang.
Kehadiran Tim Bapenda Sumenep pada kesempatan tersebut menambah keyakinan bahwa upaya masyarakat ini semakin mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
R. Moh. Hasan Karnain, S.E., M,Si., salah satu anggota tim Bapenda, memberikan apresiasi yang tinggi atas semangat kebersamaan yang ditunjukkan oleh warga Pagar Batu dalam mengembangkan sektor wisata yang berkelanjutan.
“Boekit Tawap bukan hanya destinasi wisata, ini adalah manifestasi dari semangat kemandirian dan daya juang warga desa yang patut dicontoh,” ungkap Gus Hasan sapaannya.
Ke depan, Enggang berharap Boekit Tawap akan menjadi lebih dari sekadar tujuan wisata favorit bagi pengunjung lokal maupun luar daerah.
Pihak berwenang ingin destinasi ini menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain, bahwa desa juga bisa berdaya, tumbuh, dan berkembang dengan cara mereka sendiri.

“Kami ingin dikenal bukan karena kemiskinan atau keterbatasan, tetapi karena kreativitas, semangat juang, dan keteguhan hati kami untuk membangun masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Boekit Tawap kini menjadi bukti bahwa harapan, ketika disemai dengan kerjasama dan tekad, bisa tumbuh menjadi sesuatu yang luar biasa.
Dengan investasi Rp 2.400.000 per orang dari 698 warga yang bergabung dalam program ini, hasil dari penjualan tiket masuk dan parkir akan dibagikan kepada para penabung setiap triwulan, menciptakan dampak ekonomi yang langsung dinikmati oleh masyarakat desa.
Inilah kisah inspiratif tentang bagaimana sebuah desa dapat bangkit dan merajut masa depan bersama.
Boekit Tawap, lebih dari sekadar tempat wisata, ia adalah tabungan harapan yang mengubah kehidupan, menciptakan peluang, dan memberi inspirasi bagi semua.
Pagar Batu, kini berdiri tegak dengan segala potensi yang dimilikinya, dan Boekit Tawap menjadi lambang perjuangan bersama untuk masa depan yang lebih cerah. (REDJAVA****)










