JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Tembok tinggi dan jeruji besi tak mampu membendung semangat menuntut ilmu di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Sumenep. Suasana ruang belajar sederhana di dalam rutan itu berubah menjadi kelas penuh semangat, ketika puluhan warga binaan mengikuti program Kejar Paket A, B, dan C. Rabu (22/10/2025),
Program yang digelar rutin ini merupakan hasil kerja sama antara Rutan Kelas IIB Sumenep dan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, sebagai bagian dari upaya memberikan akses pendidikan yang setara bagi warga binaan yang belum menamatkan sekolahnya.
Kepala Rutan Kelas IIB Sumenep, Heri Sutriadi, menegaskan bahwa pendidikan adalah pondasi penting dalam proses pembinaan di lembaganya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami ingin memastikan setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan masa depannya. Pendidikan adalah jembatan menuju perubahan,” kata Heri kepada media ini.
Ia menambahkan, pihaknya berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang kondusif meski di tengah keterbatasan ruang dan fasilitas.
“Mereka mungkin sedang menjalani masa hukuman, tapi hak untuk belajar tidak pernah kami batasi,” tuturnya.
Dalam program tersebut, warga binaan mendapat bimbingan dari tenaga pengajar Dinas Pendidikan sesuai kurikulum nasional. Pelajaran seperti matematika, bahasa Indonesia, hingga pendidikan kewarganegaraan diberikan secara terstruktur. Heri menyebut, partisipasi aktif warga binaan menjadi bukti nyata semangat perubahan.
“Setiap kali melihat mereka serius belajar, saya yakin proses pembinaan ini berjalan ke arah yang benar. Mereka bukan sekadar menebus kesalahan, tapi sedang menata ulang masa depan,” ungkapnya.
Menurut Heri, pendidikan di balik jeruji bukan hanya soal mendapatkan ijazah, melainkan tentang menumbuhkan rasa percaya diri dan harapan baru.
“Kami ingin mereka keluar dari sini dengan bekal lebih baik, baik pengetahuan maupun mental. Ijazah hanyalah hasil akhir, tapi yang utama adalah perubahan cara pandang hidup,” katanya dengan tegas.
Ia pun menekankan bahwa keberhasilan pembinaan di rutan tidak bisa dilepaskan dari peran kolaboratif berbagai pihak, terutama Dinas Pendidikan dan petugas pembinaan.
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa negara hadir tidak hanya untuk menghukum, tapi juga mendidik dan memulihkan. Itu esensi pemasyarakatan yang sebenarnya,” pungkas Heri. (REDJAVA****)









