JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Turnamen sepak bola Askuri Hamsani Cup 2026 di Kecamatan Arjasa, Kepulauan Kangean, menjadi perhatian publik setelah keputusan panitia penyelenggara PSBA menghentikan kompetisi dan menetapkan empat tim sekaligus sebagai juara memicu polemik di kalangan pecinta sepak bola.
Keputusan tersebut menuai beragam tanggapan dari sejumlah pihak yang menilai langkah panitia perlu dijelaskan secara terbuka demi menjaga sportivitas dan kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan turnamen di wilayah kepulauan.
Manager Putra Mandiri FC, Subhan atau yang akrab disapa Daeng, mengaku menyayangkan keputusan penghentian turnamen tersebut. Menurutnya, penetapan empat tim sebagai juara dinilai menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat dan para peserta kompetisi.
“Saya menghormati keputusan penyelenggara, tetapi tentu banyak pihak mempertanyakan dasar penetapan empat tim sebagai juara. Apalagi ada tim yang sebelumnya disebut telah mendapat sanksi diskualifikasi,” ujarnya, Minggu (10/05/2026).
Daeng menilai, dalam sebuah kompetisi sepak bola, kepastian regulasi dan konsistensi penerapan aturan menjadi hal penting agar seluruh peserta mendapatkan rasa keadilan.
“Kalau memang ada tim yang sudah didiskualifikasi, tentu masyarakat berharap ada penjelasan yang transparan terkait dasar keputusan tersebut,” tegas Daeng.
Sorotan serupa juga disampaikan aktivis pemerhati olahraga dan sosial, Muhlis Fajar.
Ia menilai polemik yang muncul seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama agar penyelenggaraan turnamen sepak bola di Kepulauan Kangean ke depan dapat berlangsung lebih profesional dan kondusif.
“Sepak bola bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga tentang menjaga sportivitas, aturan, dan kepercayaan masyarakat. Karena itu, semua keputusan sebaiknya disampaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda di tengah publik,” ungkap Muhlis.
Ia juga menyinggung pentingnya penyelenggara mengacu pada regulasi sepak bola yang berlaku, termasuk aturan disiplin kompetisi, sehingga setiap keputusan memiliki landasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Menurut saya, keterbukaan informasi dari panitia akan menjadi langkah penting untuk meredam polemik yang berkembang sekaligus menjaga semangat pembinaan olahraga di wilayah kepulauan,” tambahnya.
Hingga kini, keputusan penghentian Askuri Hamsani Cup 2026 masih menjadi perbincangan di tengah masyarakat Kepulauan Kangean.
Sejumlah pihak berharap penyelenggara dapat memberikan penjelasan resmi secara transparan agar polemik tidak berkepanjangan dan iklim sepak bola daerah tetap terjaga dengan baik. (REDJAVA****)












