JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Peralihan musim mulai terasa di Pulau Madura. Sejumlah wilayah dilaporkan telah memasuki fase awal musim kemarau, meski belum berlangsung merata. Kondisi ini diperkirakan akan meluas pada akhir April hingga Mei 2026.
Kepala BMKG Stasiun Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, menyampaikan bahwa saat ini Madura masih berada dalam masa transisi atau pancaroba, sehingga potensi hujan masih mungkin terjadi.
“Untuk saat ini, memang beberapa wilayah di Madura sudah mulai memasuki musim kemarau, namun belum merata. Diperkirakan akhir April hingga Mei nanti sebagian besar wilayah akan sepenuhnya masuk musim kemarau,” kata Ari Widjajanto, Senin (20/04/2026).
Ia menjelaskan, karakteristik awal kemarau di wilayah Madura tidak serta-merta kering total. Hujan masih berpotensi turun, namun bersifat lokal dengan intensitas yang semakin menurun.
“Perlu diingat, awal musim kemarau ini masih bagian dari pancaroba. Jadi hujan masih bisa terjadi, tetapi sifatnya lokal dan tidak merata, dengan kecenderungan terus berkurang,” jelasnya.
Lebih lanjut, BMKG juga terus memantau perkembangan fenomena El Niño yang diprediksi akan menguat secara bertahap. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang durasi kemarau di wilayah Madura.
“Kami melihat ada indikasi El Nino menuju kategori moderat. Meski peningkatannya tidak cepat, tetapi ini perlu diwaspadai karena bisa menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering,” tegas Ari.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak yang mungkin timbul, termasuk risiko kebakaran lahan. BMKG mencatat sempat terpantau adanya titik panas di wilayah Sampang dalam beberapa waktu terakhir.
“Kami juga memantau adanya titik api di wilayah Sampang. Ini harus menjadi perhatian bersama, agar masyarakat berhati-hati dalam beraktivitas dan tidak memicu kebakaran lahan,” ungkapnya.
Selain itu, perbedaan suhu yang cukup ekstrem antara pagi dan siang hari juga menjadi perhatian. Masyarakat diminta menjaga kesehatan di tengah perubahan cuaca yang cukup signifikan.
Di sektor kelautan, angin timuran yang mulai aktif sejak beberapa pekan terakhir turut berdampak pada tinggi gelombang di perairan Madura. Saat ini, tinggi gelombang berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter.
“Kondisi tersebut dinilai cukup berisiko, terutama di jalur pelayaran yang berhadapan langsung dengan arah angin timuran. Nelayan dan pengguna transportasi laut diminta meningkatkan kewaspadaan,” pungkas Ari sapaannya.
Sementara itu, sektor pertanian dan perikanan diharapkan mampu beradaptasi dengan kondisi musim kemarau. Petani garam dan tembakau dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan produktivitas apabila mampu memanfaatkan momentum ini secara optimal.
Dengan dinamika cuaca yang terus berkembang, BMKG mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat agar dapat meminimalkan risiko sekaligus memanfaatkan peluang yang ada selama musim kemarau berlangsung. (REDJAVA****)












