JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Pengaruh Badai Narelle yang sempat memicu peningkatan curah hujan di wilayah Jawa, Madura, Bali hingga Nusa Tenggara, kini mulai berangsur melemah.
Sistem badai yang sebelumnya berada di sekitar utara Australia itu dilaporkan terus bergerak menjauh dari Indonesia ke arah barat hingga barat daya.
Kepala BMKG Stasiun Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, memastikan bahwa dampak badai terhadap wilayah Madura kini tidak lagi signifikan, meski sebelumnya sempat memicu hujan yang terjadi secara berkelanjutan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Badai Narelle memang sempat memberikan pengaruh berupa hujan yang berlangsung terus-menerus di beberapa wilayah, termasuk Madura. Namun karena posisinya tidak terlalu dekat dengan Indonesia, intensitas hujan yang terjadi tidak dominan lebat,” ujar Ari kepada media ini, Kamis (26/03/2026).
Ia menjelaskan, hujan yang terjadi selama periode tersebut umumnya berada pada kategori ringan hingga sedang, meskipun di beberapa titik sempat turun dengan intensitas yang lebih tinggi.
“Secara umum hujan yang terjadi tidak ekstrem, hanya di beberapa lokasi saja yang bersifat agak deras, dan itu pun tidak merata,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ari mengungkapkan bahwa badai tersebut juga sempat memicu tarikan massa udara yang berdampak pada munculnya angin baratan. Namun kini, seiring pergerakan badai yang menjauh, efek tersebut mulai mereda.
“Tarikan massa udara yang sebelumnya mengaktifkan angin baratan kini sudah mulai berkurang, karena sistem badai terus bergerak menjauh dari wilayah Indonesia,” jelasnya.
Meski pengaruh badai mulai melemah, BMKG menegaskan bahwa saat ini wilayah Madura, termasuk Sumenep, masih berada dalam periode musim hujan dan belum sepenuhnya memasuki musim kemarau.
Kondisi yang terjadi saat ini merupakan fase peralihan musim atau pancaroba, yang ditandai dengan perubahan cuaca yang cepat dan sulit diprediksi.
“Saat ini kita sudah memasuki masa pancaroba. Dalam fase ini, cuaca cenderung berubah-ubah, dari panas ke hujan dalam waktu yang relatif singkat,” kata Ari.
Pada masa ini, lanjutnya, potensi bencana hidrometeorologi justru perlu lebih diwaspadai, terutama yang dipicu oleh pertumbuhan awan konvektif.
“Awan konvektif di masa pancaroba tumbuh dengan cepat dan bersifat lokal, sehingga bisa memicu hujan lebat tiba-tiba, angin kencang, bahkan puting beliung,” tegasnya.
Ari juga menekankan bahwa kemunculan badai di sekitar wilayah Australia, khususnya bagian utara, merupakan fenomena yang lazim terjadi menjelang akhir musim hujan.
“Di periode seperti sekarang, memang biasa terjadi silih berganti sistem badai di sekitar Australia. Ini adalah pola yang normal dalam dinamika atmosfer,” ungkapnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap perubahan cuaca ekstrem yang dapat terjadi secara tiba-tiba.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menjaga kondisi lingkungan dan kesehatan, mengingat perubahan suhu yang drastis berpotensi memicu penyakit.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, melakukan mitigasi lingkungan, serta menjaga kesehatan karena cuaca yang berubah-ubah bisa berdampak pada daya tahan tubuh,” tutur Ari.
Terkait aktivitas di perairan, termasuk menjelang arus mudik, BMKG memastikan kondisi gelombang secara umum masih dalam kategori aman. Namun, potensi peningkatan gelombang tetap ada akibat pengaruh angin sesaat.
“Untuk perairan, secara umum masih kondusif. Namun tetap ada potensi peningkatan gelombang akibat angin kencang sesaat, sehingga nelayan dan pengguna jasa laut harus tetap waspada,” pungkasnya.
Dengan kondisi pancaroba yang masih berlangsung, masyarakat diharapkan tidak lengah menghadapi dinamika cuaca. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalisir risiko bencana di tengah perubahan musim yang tidak menentu. (REDJAVA****)








