JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Senja belum benar-benar turun ketika denyut kemanusiaan itu mulai terasa di sepanjang Jalan Joko Tole, Lingkar Barat.
Lalu lintas yang biasanya riuh mendadak dipenuhi pemandangan berbeda: puluhan mahasiswa berdiri di tepi jalan, membawa paket takjil, menyapa setiap pengendara dengan senyum tulus.
Mereka adalah bagian dari Dear Jatim Koordinator Daerah Sumenep, yang memilih merayakan Ramadan dengan cara sederhana namun bermakna turun langsung ke jalan, berbagi kepada sesama.
Tak ada panggung megah, tak ada seremoni panjang. Hanya aksi nyata yang berbicara. Satu per satu paket takjil berpindah tangan, dari mahasiswa ke masyarakat yang tengah bergegas pulang menjelang waktu berbuka.

Ketua penyelenggara, Imam Rosyadi, menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari kesadaran kolektif untuk menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa hadir dan memberi arti bagi orang lain,” kata Imam dengan nada penuh keyakinan.
Menurutnya, aksi ini menjadi cara mahasiswa membumikan nilai-nilai empati di tengah kehidupan sosial yang kian dinamis.
“Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya bergerak di ruang diskusi, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, merasakan apa yang mereka rasakan, dan berbagi secara langsung,” ujarnya.
Lebih jauh, Imam berharap gerakan kecil ini mampu memantik gelombang kebaikan yang lebih luas di tengah masyarakat.

“Harapan kami sederhana, semoga apa yang kami lakukan hari ini bisa menginspirasi lebih banyak pihak untuk ikut berbagi. Karena kebaikan sekecil apa pun akan selalu punya arti besar bagi yang membutuhkan,” tutup Imam.
Respons masyarakat pun tak kalah hangat. Banyak pengendara yang tampak terkejut sekaligus tersenyum saat menerima takjil gratis. Dalam hitungan menit, ratusan paket yang disiapkan habis dibagikan menyisakan jejak kebahagiaan yang tak kasat mata, namun terasa nyata.
Di balik kesederhanaannya, aksi ini menyimpan pesan kuat: solidaritas sosial tidak membutuhkan panggung besar, melainkan ketulusan untuk bergerak. Dear Jatim Sumenep membuktikan, mahasiswa bisa menjadi jembatan empati menghubungkan harapan dengan tindakan.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan, Ramadan kembali menemukan esensinya. Bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang untuk menyalakan kepedulian, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan harapan bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu punya daya untuk mengubah suasana. (REDJAVA****)










