JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah geliat arus mudik yang mulai memadati jalur laut kepulauan, denyut pelayanan kesehatan justru berdetak lebih cepat di Pelabuhan Sapeken, wilayah Kangean, Kabupaten Sumenep.
Tenaga kesehatan dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kecamatan Arjasa turun langsung membuka posko layanan kesehatan, memastikan para pemudik tetap prima sebelum menyeberang.
Langkah ini bukan sekadar seremoni peringatan Hari Ulang Tahun ke-52 PPNI. Lebih dari itu, kehadiran mereka menjadi “garda depan” dalam menjaga keselamatan pemudik di wilayah yang dikenal memiliki tantangan geografis dan durasi perjalanan laut yang tidak singkat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak posko dibuka, arus penumpang yang datang silih berganti langsung memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan.
Mulai dari cek tekanan darah, konsultasi medis ringan, hingga penanganan keluhan akibat kelelahan perjalanan menjadi layanan utama yang paling dibutuhkan.
Koordinator lapangan, Samsudin, S.Kep., Ners., menegaskan bahwa momen mudik bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga tentang kesiapan fisik masyarakat.
“Mobilitas tinggi saat mudik sangat rentan menurunkan kondisi tubuh. Kami hadir untuk memastikan para pemudik tetap dalam kondisi sehat sebelum melanjutkan perjalanan, terutama yang menggunakan transportasi laut dengan waktu tempuh cukup panjang,” ujarnya, Selasa (17/03/2026).
Menurutnya, gangguan kesehatan seperti pusing, kelelahan, hingga tekanan darah tidak stabil kerap muncul di titik-titik keberangkatan.
Jika tidak ditangani sejak awal, kondisi tersebut bisa berisiko selama perjalanan di laut.
Sementara itu, Ketua IBI Kecamatan Arjasa, Nurul Makrifah, S.Kep., menambahkan bahwa pihaknya mengerahkan total 10 tenaga bidan untuk memperkuat layanan di lapangan.
“Kami siagakan tim bidan untuk memastikan pelayanan berjalan optimal. Tidak hanya pemeriksaan, tetapi juga edukasi kesehatan kepada masyarakat agar tetap menjaga kondisi tubuh selama perjalanan,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kehadiran tenaga bidan juga penting, terutama bagi pemudik perempuan, ibu hamil, hingga kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus selama perjalanan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa arus mudik di wilayah kepulauan tidak bisa dipandang sebelah mata. Berbeda dengan jalur darat, perjalanan laut memiliki risiko tersendiri, mulai dari cuaca, durasi, hingga keterbatasan akses layanan kesehatan di tengah perjalanan.
Karena itu, posko kesehatan di Pelabuhan Sapeken menjadi titik krusial. Bukan hanya sebagai tempat pemeriksaan, tetapi juga sebagai “filter awal” untuk memastikan setiap pemudik benar-benar dalam kondisi layak melakukan perjalanan.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kondisi kesehatan sebelum berangkat, kehadiran PPNI dan IBI di titik strategis ini diharapkan mampu menekan risiko gangguan kesehatan selama arus mudik berlangsung.
Di tengah hiruk-pikuk keberangkatan, satu hal menjadi jelas: mudik bukan hanya soal sampai tujuan, tetapi juga bagaimana tiba dengan selamat dan tetap sehat. (REDJAVA****)








