JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Ruang publik di jantung Kota Sumenep berubah wajah. Lapangan Kesenian Sumenep atau Taman Gotong Royong, Minggu (18 Januari 2026), tak lagi sekadar tempat berkumpul, tetapi menjelma menjadi ruang aman, inklusif, dan edukatif bagi masyarakat lintas usia.
Momentum itu hadir melalui PMC Festival Volume 2 yang digelar NGO Pioner Indonesia, mengusung tema “Break The Stigma: Terangi Langkah, Hapuskan Prasangka”.
Festival ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya kesehatan mental, sekaligus mendorong penghapusan stigma yang masih kuat di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, drg. Ellya Fardasyah, menandai komitmen pemerintah daerah dalam mendukung ruang-ruang publik yang sehat secara mental dan sosial.
Sebagai bagian dari rangkaian festival, Perpustakaan Keliling (Perpuling) Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sumenep turut ambil peran dengan menghadirkan Lapak Baca Buku Gratis bertajuk “Ngireng Maos Areng-Sareng”.
Buku-buku bacaan disajikan terbuka dan mudah diakses, mengundang warga untuk membaca tanpa sekat dan tanpa biaya.
Pantauan di lokasi, pengunjung lapak baca didominasi anak-anak sekolah dasar (SD), pelajar, mahasiswa, hingga orang tua.
Mereka tampak duduk lesehan, larut membaca buku secara mandiri maupun berkelompok, menciptakan suasana literasi yang hidup di tengah keramaian festival.
Pustakawan ahli muda Drs. Syaiful Bahri menilai, kehadiran lapak baca di tengah festival kesehatan mental memiliki makna strategis.

“Literasi dan kesehatan mental saling berkaitan. Membaca adalah salah satu cara paling sederhana untuk menenangkan pikiran dan membuka perspektif,” kata Syaiful Bahri kepada media disela kegiatan.
Menurutnya, menghadirkan buku di ruang publik merupakan langkah penting untuk mematahkan stigma bahwa membaca hanya milik ruang formal.
“Ketika buku hadir di tengah festival, di tengah keramaian masyarakat, pesan yang ingin disampaikan jelas: literasi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya
Bang Ipong sapaan akrabnya juga menekankan bahwa keterlibatan lintas generasi menjadi indikator keberhasilan pendekatan literasi berbasis ruang publik.
“Anak SD, mahasiswa, dan orang tua bisa duduk membaca bersama. Ini bukan pemandangan biasa, dan ini menandakan literasi mulai diterima sebagai kebutuhan bersama,” tegas Bang Ipong.
Ia menambahkan, Perpuling Dispusip Sumenep berkomitmen menjadikan lapak baca gratis sebagai gerakan berkelanjutan yang menyatu dengan agenda-agenda publik.
“Budaya baca tidak bisa dibangun secara instan. Harus konsisten, hadir di banyak ruang, dan menyentuh langsung masyarakat,” pungkasnya.
PMC Festival Volume 2 sendiri dirancang sebagai ruang publik yang aman dan inklusif, tempat masyarakat dapat belajar, berbagi, dan membangun kesadaran kolektif tentang kesehatan mental tanpa rasa takut atau stigma.
Kolaborasi antara NGO, pemerintah daerah, dan institusi literasi ini dinilai menjadi model pendekatan baru pembangunan sosial menggabungkan edukasi, literasi, dan isu kesehatan mental dalam satu ruang publik yang terbuka. (REDJAVA/$$$)








