JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Daerah Pamekasan–Sumenep menggelar Musyawarah Daerah (Musda) III di Lembaga Al Hidayah, Kabupaten Sumenep, Minggu (11/01/2026).
Musda ini menjadi agenda penting organisasi dalam menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengurus masa bakti 2022–2026 sekaligus merumuskan arah kebijakan dan kepengurusan periode berikutnya.
Mengusung tema “Kolaborasi dan Inovasi Menuju Pendidikan Bermutu”, Musda III juga menjadi ruang evaluasi dan konsolidasi antar sekolah anggota JSIT di wilayah Pamekasan dan Sumenep di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Daerah Pamekasan–Sumenep menegaskan bahwa Musda merupakan momentum strategis dalam menentukan arah gerak organisasi ke depan.
“Musda ini bukan sekadar forum pergantian kepengurusan, tetapi menjadi ruang refleksi untuk memastikan JSIT tetap relevan dan adaptif terhadap perubahan zaman,” katanya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sekolah serta inovasi berkelanjutan sebagai kunci peningkatan mutu pendidikan Islam terpadu.
“Kolaborasi dan inovasi adalah keniscayaan. Sekolah tidak bisa berjalan sendiri menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21,” ujarnya.
Menurutnya, JSIT berkomitmen mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan karakter.
“Target utama JSIT adalah melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki daya saing, tanpa kehilangan jati diri keislamannya,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga memaparkan filosofi logo Musda III yang memadukan dua ikon daerah, yakni Arek Lancor sebagai simbol Kabupaten Pamekasan dan keris sebagai simbol Kabupaten Sumenep.
“Arek Lancor itu dimaknai sebagai semangat dan keteguhan, sementara keris melambangkan kewibawaan serta nilai luhur budaya,” tutupnya.
Perpaduan warna hijau, kuning, dan emas merepresentasikan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin serta harapan kejayaan pendidikan Islam terpadu.
Sementara itu, perwakilan Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur, Ustadz Siswandi, menyampaikan bahwa JSIT Indonesia terus berkembang sebagai jejaring sekolah Islam terpadu di seluruh Indonesia.
“Saat ini JSIT Jawa Timur menaungi sekitar 400 sekolah dari total kurang lebih 2.800 sekolah anggota secara nasional,” ungkapnya.
Pihaknya menekankan pentingnya framework organisasi JSIT sebagai pedoman kebijakan dan arah pengembangan sekolah.
“Framework JSIT harus menjadi rujukan bersama agar pengelolaan sekolah berjalan sistematis, terukur, dan berorientasi mutu,” jelas Ustadz Siswandi.
Musda III secara resmi dibuka oleh Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, M. Fajar Hidayat, S.I.P., M.M.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa manajemen pendidikan menjadi faktor kunci dalam mencapai tujuan pendidikan.
“Manajemen yang baik adalah fondasi utama untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan,” kata Fajar.
Ia juga mendorong integrasi sektor pendidikan dengan sektor sosial dan ekonomi guna membangun ekosistem pendidikan yang kondusif.
“Pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Integrasi dengan sektor sosial dan ekonomi akan memperkuat daya dukung dan keberlanjutan pendidikan,” tambahnya.
Menurutnya, framework JSIT Indonesia dapat menjadi grand design pendidikan yang mandiri dan berkualitas apabila diterapkan secara konsisten.
Melalui rangkaian sidang yang berlangsung secara musyawarah dan mufakat, Musda III memutuskan pemisahan kepengurusan JSIT Indonesia Daerah Pamekasan dan JSIT Indonesia Daerah Sumenep.
Keputusan ini diambil sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas pembinaan, koordinasi, dan pelayanan organisasi di masing-masing wilayah.
Sidang Musda diawali dengan pemaparan laporan pertanggungjawaban dari masing-masing kepala bidang, kemudian dilanjutkan dengan sidang terbuka dan tertutup.
Dalam keputusan akhir sidang, ditetapkan kepengurusan baru masa bakti 2025–2029.
Untuk JSIT Indonesia Daerah Pamekasan, kepemimpinan dipercayakan kepada Ustadz Habiburrahman, S.Pd. Sementara JSIT Indonesia Daerah Sumenep dipimpin oleh Amirullah, M.Th.I.
JMusda III ditutup dengan harapan agar kepengurusan yang baru mampu menjalankan amanah secara maksimal, memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, serta menghadirkan inovasi berkelanjutan demi peningkatan mutu pendidikan Islam terpadu di Pamekasan dan Sumenep. (REDJAVA****)









