JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Moh. Tegar Wahyudi, siswa kelas XII SMA NU Sumenep, kembali mengharumkan nama sekolah setelah berhasil meraih Juara II dalam kategori Egrang Tradisional pada ajang Festival Olahraga Tradisional Kabupaten (Forkab) Sumenep) 2025.
Kompetisi yang menuntut kelincahan dan kekuatan fisik ini menjadi salah satu cabang lomba paling diminati di GOR A. Yani Pangligur, Sabtu–Minggu (22–23 November 2025).
Kepala Satuan Pendidikan SMA NU Sumenep, Sri Farida Hartatik, S.Pd, menyampaikan apresiasi kepada para guru dan seluruh siswa yang telah menjaga konsistensi prestasi sekolah pada akhir semester ganjil tahun ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur. Anak-anak menunjukkan semangat luar biasa. Prestasi ini menjadi bukti bahwa mereka mampu bersaing dan tampil percaya diri,” ujar Sri Farida, Minggu (23/11/2025).
Pihaknya menambahkan bahwa kemenangan Tegar turut memperkuat tradisi juara SMA NU Sumenep pada bidang olahraga dan seni, termasuk cabang tradisional yang kini kembali digemari generasi muda.
“Kami bangga karena SMA NU Sumenep mampu mempertahankan tren prestasi seperti tahun lalu. Terima kasih atas dedikasi para guru dan usaha keras para siswa,” tambahnya.
Festival Olahraga Tradisional 2025 digelar oleh KORMI Sumenep dengan mengusung tema khas Madura: “A Ghai’ Bintang Lebat En – Maenan” yang berarti Meraih Bintang dengan Kegembiraan Permainan. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini dirancang sebagai sarana menghidupkan kembali permainan rakyat di tengah dominasi hiburan digital.
Sisi lain Kepala Disbudporapar Sumenep, Mohammad Iksan, menegaskan bahwa olahraga tradisional memegang peran penting dalam menjaga jati diri budaya daerah.
“Kami menyambut baik dan siap mendukung penuh Forkab KORMI Sumenep 2025 ini. Olahraga tradisional adalah warisan budaya yang harus kita jaga dan kembangkan,” ujarnya.
Ia berharap ajang seperti Forkab dapat terus berlangsung setiap tahun karena terbukti menjadi ruang edukatif bagi generasi muda untuk tetap dekat dengan akar budaya.
Festival tahun ini menarik perhatian banyak sekolah dan komunitas karena menampilkan berbagai permainan tradisional seperti egrang, tarik tambang, terompah, hingga hadang. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa budaya lokal masih hidup dan dicintai oleh masyarakat, terutama kalangan pelajar. (REDJAVA****)









