JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Dinamika atmosfer regional kembali membawa dampak signifikan terhadap kondisi cuaca di Madura, khususnya Kabupaten Sumenep.
Meski tengah berada di musim kemarau, sejumlah wilayah di kabupaten ujung timur Pulau Madura ini masih berpotensi diguyur hujan.
Kepala BMKG Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, menjelaskan bahwa suhu muka laut yang masih hangat dari kawasan Nusa Tenggara Timur hingga Madura menjadi salah satu pemicu utama terbentuknya awan konvektif yang berpotensi menyebabkan hujan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saat ini suhu laut di perairan Sumenep masih hangat. Ditambah angin timuran yang bertiup tidak terlalu kencang, kondisi ini mendorong terbentuknya uap air yang kemudian menimbulkan awan hujan,” kata Ari, Sabtu (19/7/2025).
Ia menyebut, angin timuran yang biasanya cukup kuat untuk mendorong massa udara kini melambat akibat fenomena atmosferik bernama blocking.
Fenomena ini terjadi ketika tekanan udara tinggi menghambat pergerakan sistem cuaca, sehingga pola angin menjadi melebar dan melemah.
“Ketika terjadi blocking, awan yang seharusnya tersebar ke wilayah lain justru menumpuk di satu area, termasuk Sumenep. Hal ini bisa berkembang menjadi hujan lebat dengan cakupan cukup luas,” imbuhnya.
Ari menekankan bahwa masyarakat, khususnya petani tembakau, harus mulai mengantisipasi potensi gangguan cuaca.
Mengingat tanaman tembakau sangat membutuhkan cuaca panas dan kering, hujan di musim kemarau bisa menghambat pertumbuhan dan proses pengeringan hasil panen.
“Kalau melihat data yang ada, potensi hujan masih terbuka, terutama di wilayah kepulauan dan timur Sumenep seperti Gapura, Dungkek, Bluto, dan Nyabakan. Ini penting diperhatikan petani tembakau agar tidak semata-mata berharap cuaca kering,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak lengah. Meski musim kemarau secara umum identik dengan cuaca cerah, pola cuaca tahun ini dinilai cukup dinamis dan sulit diprediksi.
“Perhitungan manusia bisa saja meleset. Namun dengan informasi cuaca yang akurat, kita bisa mengantisipasi. Harapannya, aktivitas masyarakat tetap berjalan dan dampak negatif bisa diminimalkan,” ungkapnya.
Ari juga menekankan pentingnya mengikuti informasi resmi dari BMKG atau instansi terkait lainnya guna menghindari risiko dari cuaca ekstrem. Masyarakat pesisir dan dataran rendah yang rawan genangan diminta meningkatkan kewaspadaan.
“Dengan kondisi atmosfer seperti ini, hujan lokal bisa saja turun sewaktu-waktu. Jangan sampai aktivitas terganggu hanya karena kita abai pada informasi,” tandasnya.
Kondisi cuaca yang dinamis ini menjadi bukti bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor pertanian sangat dibutuhkan agar produktivitas tetap terjaga di tengah tantangan cuaca yang tak menentu.









