JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Sumenep, Heri Sutriadi, menunjukkan langkah progresif dalam upaya membenahi sarana dan prasarana pemasyarakatan. Dengan visi yang tajam dan semangat pembaruan, Heri menyulap dua unit gudang yang sebelumnya terbengkalai menjadi fasilitas vital untuk kesehatan dan pembinaan kemandirian warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Renovasi yang dilakukan secara bertahap namun efisien ini berangkat dari tekad untuk menciptakan lingkungan rutan yang lebih sehat, manusiawi, dan produktif. Gudang pertama, yang sebelumnya hanya menjadi ruang penyimpanan kosong, kini diubah menjadi ruang isolasi khusus bagi warga binaan yang mengalami gangguan kesehatan menular. Fasilitas ini merupakan bentuk kepedulian Rutan Sumenep terhadap isu kesehatan di lingkungan pemasyarakatan yang rentan terhadap penyebaran penyakit karena keterbatasan ruang dan padatnya hunian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gudang kedua, yang memiliki kapasitas lebih besar, difungsikan sebagai ruang multifungsi pembinaan, dan kini tengah difokuskan sebagai sentra pelatihan dan produksi batik. Warga binaan akan dilatih keterampilan membatik secara profesional, bukan hanya sebagai aktivitas pengisi waktu, tetapi sebagai bekal nyata ketika mereka kembali ke masyarakat kelak.
Dalam proses renovasi ini, Karutan Heri Sutriadi tidak hanya berperan sebagai pemimpin administratif, namun juga sebagai pengawas lapangan yang aktif turun langsung ke lokasi. Ia memastikan bahwa setiap tahapan pengerjaan berjalan sesuai dengan standar keamanan, kenyamanan, serta efektif dalam pemanfaatannya. Pendekatan ini mencerminkan gaya kepemimpinan partisipatif dan berorientasi pada hasil.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap ruang yang tersedia di Rutan Sumenep dapat dimanfaatkan secara maksimal. Ini bukan hanya soal mempercantik bangunan, tapi bagaimana fasilitas itu mampu menjadi instrumen pembinaan yang nyata. Baik dari sisi layanan kesehatan maupun pemberdayaan keterampilan warga binaan,” ujar Heri Sutriadi di sela-sela kunjungannya meninjau langsung progres pembangunan, Senin (14/7/2025).
Inisiatif tersebut tidak hanya disambut baik oleh jajaran internal Rutan Sumenep, tetapi juga mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat dan lembaga pemerhati pemasyarakatan. Mereka menilai langkah Heri menjadi percontohan konkret bahwa reformasi di bidang pemasyarakatan tidak harus selalu menunggu proyek besar dari pusat, tetapi bisa dimulai dari inisiatif lokal dengan pendekatan inovatif dan kolaboratif.
Ruang isolasi yang layak, serta sarana pembinaan produktif seperti sentra batik, menjadi dua aspek penting dalam membangun sistem pemasyarakatan yang ideal yakni menjaga hak-hak dasar warga binaan, sekaligus memberikan mereka kesempatan kedua untuk tumbuh dan berkembang.

Dengan komitmen kuat dan keberanian untuk berinovasi, Karutan Heri Sutriadi membuktikan bahwa perubahan bukan sekadar wacana, melainkan bisa hadir dalam wujud nyata di balik tembok-tembok rutan.
“Kami percaya bahwa pemasyarakatan bukan soal menghukum semata, tapi tentang memberi harapan dan ruang untuk berubah. Apa yang kami lakukan hari ini adalah fondasi untuk masa depan yang lebih baik, bagi warga binaan, bagi lembaga, dan bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (REDJAVA****)









