JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Tak semua kemenangan diukur dengan skor. Ada kemenangan yang tak tercatat di papan nilai, tetapi abadi dalam hati. Itulah yang ditorehkan Fettum Muksin Alkatiri, atlet putri dari Perguruan Perisai Putih Kabupaten Sumenep, yang harus mengakhiri laga final Porprov Jatim IX 2025 dengan penuh haru dan kemuliaan.
Berjuang sejak awal babak penyisihan dengan penampilan yang konsisten dan penuh semangat, Fettum melangkah hingga ke babak final. Laga puncak yang mempertemukannya dengan atlet tuan rumah Kota Malang berjalan dalam tekanan luar biasa. Namun, di tengah gemuruh sorak sorai pendukung lawan, Fettum tampil tenang, berani, dan tanpa gentar. Ia menunjukkan bahwa nama Sumenep tak pernah hadir dengan sia-sia.
Pertarungan itu berlangsung intens dan dramatis. Setiap jurus, setiap langkah, adalah simbol keteguhan seorang pejuang. Namun di tengah tensi pertandingan yang tinggi, kondisi fisiknya menurun secara drastis. Di titik tersebut, wasit menghentikan laga, dan Fettum dinyatakan tak dapat melanjutkan pertandingan. Keputusan berat itu harus diterima, namun bukan dengan kecewa melainkan dengan kepala tegak dan hati lapang. Karena bukan hasil akhir yang dikenang, melainkan cara seseorang memperjuangkannya.
Ketua Harian KONI Sumenep, Abdul Kadir Al-Mahdaly, yang sejak awal mengikuti perjuangan para atlet, langsung bergerak mendampingi Fettum hingga mendapatkan perawatan. Tak lama berselang, sebuah momen penuh haru pun terjadi: medali perak yang seharusnya dikalungkan di podium, justru disematkan langsung oleh Ketua KONI di ruang perawatan, di tengah keheningan dan rasa haru.
“Saya menyaksikan sendiri bagaimana Fettum bertarung dengan penuh keberanian. Ia tidak menyerah. Ia berjuang sampai batas terakhir kemampuannya. Ini bukan kekalahan, ini adalah kemenangan paling mulia yang tak tercatat di papan skor,” ungkap Abdul Kadir dengan terharu, Sabtu (05/07/2025).
Ia melanjutkan bahwa medali ini bukan sekadar perak, tapi simbol dari semangat dan harga diri seorang atlet yang mengabdikan seluruh daya dan tenaganya untuk kehormatan daerah.
“Medali ini mungkin bukan emas di mata juri, tetapi di hati kami, inilah emas sejati. Ia telah memberi contoh bahwa berjuang sepenuh hati, bahkan ketika tak lagi bisa melangkah, adalah bentuk tertinggi dari pengabdian seorang atlet kepada daerahnya,” tegasnya.
Abdul Kadir menegaskan bahwa KONI Sumenep akan terus mendampingi dan memperhatikan semua atlet tanpa kecuali. Namun ada hal lebih besar dari itu: apa yang dilakukan Fettum telah menyentuh jiwa masyarakat Sumenep bahkan Indonesia. Ia telah menjadi inspirasi hidup, tentang arti berjuang bukan untuk nama, tetapi untuk kehormatan dan cinta pada tanah kelahiran.
“Fettum tak berdiri di podium, tapi ia berdiri di puncak kehormatan. Ia tak memenangkan emas, tapi ia memenangkan hati kami semua. Dari ruang sunyi ini, lahirlah semangat baru untuk olahraga Sumenep semangat yang tak bisa dicetak, tak bisa dinilai, karena ia hidup di dalam jiwa para pejuang sejati. Terima kasih, Fettum. Engkau telah menjadi juara, bukan karena menang tetapi karena engkau tidak pernah menyerah.” pungkasnya. (REDJAVA****)












