JAVANETWORK.CO.ID.OPINI – Jika olahraga adalah panggung perjuangan, maka Komisi IV DPRD Sumenep tampaknya lebih memilih duduk di bangku penonton menikmati lakon tanpa pernah ikut menulis skenario. Sebab, perhatian mereka terhadap dunia olahraga nyaris tak tampak.
Seperti hidup di negara dongeng, di mana segalanya penuh kata-kata, minim aksi, dan lebih banyak drama ketimbang solusi.
Komisi yang seharusnya punya fungsi kontrol itu kini tak ubahnya celurit tumpul tajam dalam pernyataan, tapi tak pernah menyentuh akar masalah. Sorotan terhadap minimnya anggaran Porprov 2025 dan perjuangan atlet yang terseok tanpa dukungan, seharusnya menjadi tamparan. Namun, alih-alih peka, Komisi IV justru sibuk menyusun narasi yang indah di media, bukan di lapangan nyata.
Mereka baru turun setelah gelombang kritik datang, itupun setengah hati. Pilih-pilih isu, hanya menanggapi yang dianggap menguntungkan citra. Maka tidak berlebihan jika publik menyebut mereka hidup di “negara dongeng” negara di mana kritik adalah basa-basi, dan respon hanyalah ilusi untuk memenuhi kewajiban tampil.
Lebih menyedihkan, ketika komentar mereka sekadar untuk menggugurkan kewajiban agar tak disebut anti media. Padahal, kenyataan di bawah jauh dari cerita yang dikarang. Atlet masih berjuang tanpa kepastian, pengurus cabang olahraga memutar otak mencari dana, sementara para wakil rakyat itu sibuk merangkai narasi agar disebut peduli.
Lantas, dongeng apalagi yang akan ditulis? Tentang keberpihakan palsu? Atau tentang peran yang sebenarnya tak pernah dimainkan?
Publik kini butuh wakil rakyat yang hadir bukan hanya saat kamera menyala, tapi juga saat keringat atlet menetes di lapangan latihan. Sebab, di dunia nyata bukan di negara dongeng perubahan lahir dari keberanian bersikap, bukan dari narasi yang penuh basa-basi. (REDJAVA****)
Penulis : Mahrus Ali Jurnalis Olahraga Sumenep, Selasa 17 Juni 2025
Editor : REDJAVA











