JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Pada 1 Juni, Indonesia mengenang momen agung lahirnya Pancasila bukan sekadar tanggal di kalender nasional, tapi titik awal peradaban bernegara.
Namun, 79 tahun setelah Bung Karno menggagasnya dalam sidang BPUPKI, pertanyaan mendasar tetap bergema: Apakah Pancasila sungguh hidup di tengah rakyat?
Pertanyaan itulah yang kembali ditegaskan oleh H. Hosnan Abrori, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumenep, dalam refleksinya menyambut Hari Lahir Pancasila tahun ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pancasila jangan hanya dibacakan saat upacara atau dipajang di dinding kantor. Ia harus hidup. Ia harus terasa di meja makan rakyat kecil, di ruang kelas anak desa, dan di tiap layanan publik,” kata Hosnan, Minggu (01/06/2025).
Sebagai anggota Komisi III DPRD Sumenep, Hosnan bicara bukan dari ruang kosong.
Dirinya menyaksikan sendiri ketimpangan akses, anggaran yang timpang, dan suara rakyat yang kerap tenggelam dalam hingar-bingar proyek pembangunan.
“Kalau kita bicara Pancasila, kita bicara keadilan. Tapi lihat saja, masih banyak keluarga miskin yang tidak terjangkau layanan kesehatan. Masih ada anak-anak yang putus sekolah karena tidak mampu. Di mana Pancasila kalau itu semua kita biarkan?” ujarnya.
Menurutnya, Pancasila adalah ideologi yang bukan hanya menginspirasi, tapi harus memaksa lahirnya keberpihakan.
Sosok politisi kepulauan menyebut gotong royong, keadilan sosial, dan persatuan bukan jargon kosong tapi prinsip konkret yang mesti menjadi arah setiap kebijakan.
“Kami di Fraksi PDI Perjuangan berkomitmen untuk menjadikan Pancasila sebagai napas dalam setiap regulasi dan kebijakan. Pendidikan karakter, keberpihakan anggaran pada rakyat kecil, hingga pelibatan masyarakat desa dalam pembangunan itulah wujud implementasinya,” katanya.
Hosnan juga mendorong pemerintah daerah agar tidak menjadikan Pancasila sebagai formalitas upacara belaka. Ia ingin Pancasila “turun ke bumi” dan hadir nyata di setiap sudut kehidupan warga.
“Pancasila seharusnya tidak berjarak. Ia harus kita bawa ke pasar tradisional, ke tambak-tambak nelayan, ke sawah-sawah petani. Rakyat harus merasakan bahwa negara hadir, bukan sekadar menjanjikan,” jelas Ketua Fraksi PDI-P DPRD Sumenep itu
Hari Lahir Pancasila kali ini, menurut Hosnan, bukan hanya soal peringatan, tapi ajakan. Ajakan untuk berhenti menjadikan Pancasila sebagai teks yang dibaca tanpa makna. Ia mengajak semua elemen pejabat, pendidik, pemuka agama, bahkan jurnalis untuk menghidupkan kembali ideologi bangsa ini lewat tindakan nyata.
“Jangan biarkan Pancasila hanya jadi dokumen sejarah. Mari kita hidupkan kembali ia dalam setiap tarikan napas bangsa ini. Karena saat Pancasila benar-benar hidup, saat itulah rakyat merasa dimiliki oleh negerinya sendiri,” pungkasnya. (REDJAVA****)








