JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Fenomena banjir rob kembali melanda wilayah pesisir Desa Saobi, Kecamatan Kangayan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Air laut pasang besar yang terjadi sejak Senin (26/5/2025) tidak hanya menggenangi pemukiman warga, tetapi juga membawa serta tumpukan sampah ke daratan.
Hingga Jumat (30/5/2025), genangan air masih belum sepenuhnya surut.
Sejumlah warga mengeluhkan dampak banjir rob kali ini yang dinilai lebih parah dari biasanya. Selain mengganggu aktivitas harian, warga juga harus berjibaku membersihkan sampah yang berserakan setelah air surut.
Mereka meminta adanya langkah nyata dari pemerintah daerah, terutama Pemerintah Kabupaten Sumenep.
“Biasanya yang terdampak hanya rumah-rumah dekat pantai, tapi kali ini luapan air sampai ke Dusun Bungin, Dusun Songai, dan sebagian Dusun Masjid. Bahkan jalan poros desa di Songai pun tidak bisa dilewati karena air begitu tinggi,” ujar Damayanti, warga Dusun Timur Songai, Jum’at (30/05/2025)
Damayanti menyebut bahwa bencana ini bukan semata disebabkan oleh faktor alam, melainkan juga minimnya infrastruktur pengendali banjir.
Ia berharap pemerintah kabupaten dapat mengambil peran lebih serius.
“Kami sangat membutuhkan pembangunan drainase, tanggul laut, dan normalisasi sungai dari hulu hingga hilir. Ini bukan hal yang bisa ditangani dengan dana desa saja,” imbuhnya.
Selain itu, ia menyoroti masalah sampah yang semakin memperparah kondisi.
Menurutnya, kebiasaan warga membuang sampah ke laut menjadi bumerang saat banjir rob datang.
“Sampah terbawa air pasang dan berserakan ketika surut. Kalau dibiarkan membusuk, itu bisa menjadi sumber penyakit. Kami butuh fasilitas pengelolaan sampah yang memadai agar warga tidak lagi membuang sampah sembarangan,” jelas Damayanti.
Keluhan serupa juga disampaikan Abdullah, warga Dusun Bungin Nyarat.
Ia mengaku wilayahnya menjadi salah satu titik terdampak paling parah akibat genangan yang terjadi hampir merata ke rumah-rumah warga.
“Sudah empat hari ini air masuk ke rumah-rumah. Warga bukan hanya harus menghadapi air laut yang naik, tapi juga sampah-sampah yang menyebar ke mana-mana. Sarana pengelolaan sampah sangat dibutuhkan di desa kami,” ujarnya.
Menurut Abdullah, warga juga butuh pendampingan dan edukasi untuk tidak lagi membuang sampah ke laut.
Ia menilai, perilaku tersebut tak hanya merusak lingkungan, tetapi juga memperparah dampak banjir rob yang kini kian sering terjadi.
“Kami berharap pemerintah membangun tanggul laut dan menyediakan tempat pembuangan serta pengolahan sampah. Kalau fasilitasnya ada, warga pasti lebih sadar untuk menjaga lingkungan,” tegasnya.
Sejumlah warga lainnya menyatakan bahwa banjir rob hampir rutin terjadi setiap bulan, namun kali ini lebih masif dan sangat mengganggu aktivitas harian.
Mereka khawatir jika tidak segera ditangani, dampak buruknya akan semakin luas, termasuk potensi masalah kesehatan.
“Sampah yang terbawa air rob dan dibiarkan menumpuk itu berpotensi jadi sumber penyakit. Kami mohon ada tindakan nyata dari pemerintah,” ujar warga lainnya yang enggan disebutkan namanya.
Warga Desa Saobi kini berharap perhatian lebih dari pemerintah daerah, mengingat keterbatasan anggaran desa yang tidak mencukupi untuk membangun infrastruktur besar. Mereka ingin solusi jangka panjang, bukan hanya respons sesaat saat bencana terjadi. (REDJAVA****)












