JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Di tengah derasnya arus digital dan rutinitas birokrasi, sebuah pesan sederhana namun penuh getaran jiwa tiba-tiba membelah jagat maya.
Datang dari sosok pemimpin rendah hati, Bupati Sumenep, Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo, SH, MH, wejangan itu kini menggema di platform TikTok dan media sosial lainnya, menyalakan bara semangat yang sempat meredup di hati para Aparatur Sipil Negara (ASN).
Dalam rekaman sebuah podcast santai, dengan suara tenang namun penuh daya gugah, Bupati Achmad Fauzi menyampaikan pesan yang menusuk relung hati:
“Tirulah yang muda dan berkarya, malulah pada yang tua tapi tetap bersemangat dalam berkarya.” kata Bupati Fauzi dalam unggahannya. Selasa (29/04/2025).
Kalimat itu, meski sederhana, mengandung dentuman moral yang kuat. Seakan mengingatkan bahwa dalam dunia pengabdian, usia hanyalah angka bukan alasan untuk menyerah, apalagi berhenti menyalakan bara karya.
“Semangat berkarya tidak mengenal usia. Anak muda harus berani melahirkan ide-ide besar, sementara yang senior harus menjadi mata air keteladanan memperlihatkan bahwa dedikasi tak lekang oleh waktu,” tuturnya.
Tak butuh waktu lama, wejangan tersebut membanjiri lini masa TikTok dan Instagram. Warganet, baik kalangan muda maupun tua, merespons dengan haru, bangga, dan rasa tersentuh.
Banyak yang menyebut pesan ini sebagai obor baru bagi ASN, bahkan bagi siapa saja yang sedang berjuang menunaikan tugas hidupnya.
Lebih dari sekadar motivasi, wejangan ini adalah ajakan untuk menyalakan kembali api profesionalisme, kreativitas, dan integritas di tubuh birokrasi sebuah syarat mutlak untuk mengantar Sumenep menjadi daerah yang tidak hanya maju di atas kertas, tetapi juga berdaya saing dengan ruh kemanusiaan yang kuat.
Bupati Achmad Fauzi tak sekadar bicara. Ia membangun budaya kerja di mana inovasi bukan hanya tugas anak muda, melainkan napas bersama, dari mereka yang baru belajar hingga mereka yang telah mengabdi berpuluh tahun.
“Yang muda jangan hanya bergantung pada semangatnya. Yang tua jangan kalah oleh usia. Mari sama-sama menjadi lilin yang menerangi,” ujarnya, menutup pesannya, seolah menitipkan harapan besar di pundak seluruh aparatur daerah.
Hari itu, di sela-sela rutinitas yang sering terasa hampa, sebuah kalimat sederhana berubah menjadi gelombang.
Ia menyentuh hati, menggerakkan pikiran, dan mungkin mengubah arah banyak perjalanan.
Sumenep hari ini kembali belajar: bahwa berkarya adalah tanda kita masih hidup, dan semangat adalah bukti kita belum menyerah. (REDJAVA****)










