JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah tantangan pendidikan modern yang semakin kompleks, Kabupaten Sumenep menorehkan langkah monumental dalam ikhtiar perlindungan terhadap anak-anak bangsa.
Bertempat di Aula MAN Sumenep, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) menyelenggarakan kegiatan bertajuk Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Satuan Pendidikan, Senin (21/4/2025).
Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan sebuah gerakan moral yang memantik kesadaran kolektif tentang pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari segala bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, maupun psikologis.
Hadir sebagai narasumber tunggal dan utama, Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Sumenep, Dr. Zamzami Sabiq, M.Psi., yang dalam paparannya menggugah para peserta untuk melihat urgensi persoalan ini dari perspektif psikologi perkembangan anak.
“Kekerasan terhadap anak, sekecil apapun bentuknya, menyisakan luka yang bisa menjalar hingga dewasa. Trauma itu bukan hanya mengganggu proses belajar, tapi bisa menggerus harga diri dan masa depan mereka,” kata Dr. Zamzami.
Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi ruang aman safe space bagi setiap anak untuk bertumbuh dan berkembang secara utuh.

Namun faktanya, tidak sedikit kekerasan justru terjadi di dalam tembok institusi pendidikan, sering kali luput dari pengawasan.
Wakil Ketua Pengasuh Ponpes Nasyrul Ulum Aeng Dake Bluto juga menekankan pentingnya kapasitas guru dan tenaga kependidikan untuk mendeteksi tanda-tanda kekerasan secara dini.
“Saya mendorong setiap sekolah yang ada untuk membangun budaya komunikasi empatik serta menyediakan layanan konseling yang aktif dan responsif,” pungkasnya.
Dalam sesi interaktif, puluhan peserta dari berbagai satuan pendidikan terlihat antusias menyampaikan pertanyaan dan berbagi pengalaman.
Sorotan utama diskusi adalah bagaimana membangun ekosistem sekolah yang humanis, adil, dan berpihak pada hak-hak anak.
Sosialisasi yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB ini diakhiri dengan sebuah refleksi mendalam: bahwa mencegah kekerasan terhadap anak bukan hanya tanggung jawab lembaga, tapi tugas kemanusiaan yang harus dipikul bersama.
Dengan gelombang kesadaran yang mulai menyala dari MAN Sumenep, langkah besar Sumenep menuju pendidikan yang berkeadaban telah dimulai. (REDJAVA****)










