JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Suasana berbeda dan penuh warna terlihat di halaman Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Raudhatul Muta’allimin, Desa Talango, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Jika biasanya upacara Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia identik dengan kalangan orang dewasa, kali ini justru anak-anak usia 4–6 tahun yang tampil menjadi pemeran utama.
Upacara bendera yang digelar Minggu (17/08/2025) itu menjadi momen bersejarah karena baru pertama kali dilaksanakan di sekolah tersebut.
Sejak pagi, ratusan anak hadir dengan wajah ceria, mengenakan seragam merah putih yang tampak kebesaran di tubuh mungil mereka. Namun siapa sangka, ketika prosesi dimulai, ekspresi riang itu berubah menjadi serius dan penuh khidmat.
Sekitar 150 siswa mengikuti setiap rangkaian acara dengan tertib. Yang membuat suasana semakin unik, para petugas upacara mulai dari pembaca teks Pancasila, janji siswa, hingga doa penutup semuanya dilakukan oleh anak-anak terpilih.
Meski suara mereka kecil dan kadang terbata, semangat yang terpancar membuat para guru dan orang tua terharu. Kepala sekolah, Uswatun Chasanah, S.Pd. AUD., pun tampil sebagai pembina upacara.
Widiyawati, guru sekaligus pelatih upacara, mengaku sempat khawatir anak-anak tidak bisa menjalankan tugas dengan baik.
“Kendalanya saat latihan, anak-anak nggak bisa fokus lama-lama, Mas. Jadi, kita ngelatihnya pas mood anak sedang baik, terutama untuk mereka yang jadi petugas,” ujarnya kepada media, Selasa (19/08/2025).
Menurutnya, ide ini berawal dari keinginan kepala sekolah agar nilai nasionalisme ditanamkan sejak dini.
“Awalnya, Bu Kepsek ingin anak-anak mengenal tanah air sekaligus menumbuhkan rasa cinta pada Indonesia. Jadi, mereka diajak ikut upacara bendera untuk memeriahkan HUT RI ke-80 di sekolah,” jelasnya.
Meski persiapan hanya dua minggu, hasilnya sungguh di luar dugaan. Anak-anak tampil percaya diri, tertib, bahkan ada yang rela menghafalkan teks Pancasila berulang kali meski awalnya sulit. Para orang tua yang menyaksikan pun tampak meneteskan air mata bangga.
“Memang belum sesempurna upacara orang dewasa, tapi yang terpenting anak-anak sudah belajar menghargai simbol negara dan makin cinta terhadap tanah air sejak dini,” pungkasnya.
Bagi para guru dan orang tua, upacara perdana ini bukan sekadar seremoni, melainkan pelajaran berharga bahwa kecintaan pada Indonesia bisa ditanamkan sejak anak masih kecil.
Dengan cara sederhana, mereka belajar disiplin, berani tampil di depan umum, dan yang terpenting menumbuhkan rasa bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. (REDJAVA****)










