JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah senyapnya perairan Kangean yang tenang, kini menggema suara penolakan yang tak bisa lagi diabaikan. Dari sudut timur Kabupaten Sumenep, seorang anak muda muncul membawa semangat perubahan bukan dengan kemarahan, tapi dengan nurani.
Ia adalah Agus Salim, Ketua Gerakan Advokasi Rakyat dan Intelektual Sosial Kangean (GARIS-K), yang lantang menolak rencana survei seismik 3D di laut tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
“Saya bukan anti pembangunan. Tapi saya percaya, pembangunan yang tak berpijak pada suara rakyat adalah bentuk perampasan. Ia mungkin sah di atas kertas hukum, tapi cacat secara moral,” ucap Agus penuh keteguhan, Sabtu (15/6/2025).
Sebagai putra asli Kangean, Agus tahu betul bahwa laut bukan sekadar hamparan biru. Di situlah denyut hidup warga berdetak. Laut adalah sumber nafkah, ruang spiritual, dan harapan masa depan.
Karena itu, rencana survei seismik yang muncul tanpa keterlibatan masyarakat, tanpa dialog terbuka, tak hanya menimbulkan pertanyaan, tapi juga rasa terluka.
“Kami lelah menjadi penonton di tanah sendiri. Ketika laut kami diguncang gelombang buatan, siapa yang menjamin ekosistem tetap utuh? Siapa yang menjamin anak cucu kami masih bisa hidup dari laut yang sama?” ujarnya, getir namun tegas.
GARIS-K pun menyatakan sikap dengan tiga tuntutan penting:
1. Pemerintah Kabupaten Sumenep diminta menyuarakan keberpihakan.
“Jangan hanya hadir saat pilkada. Ketika kami bersuara, jangan malah bungkam. Kami butuh pemimpin yang melihat Kangean bukan sekadar angka dalam peta pemilu,” seru Agus.
2. Camat Arjasa diminta berdiri di pihak rakyat.
“Ini bukan semata urusan teknis, ini soal keberanian mengambil posisi. Apakah bersama masyarakat atau bersama kepentingan yang membungkam?” lanjutnya.
3. PT KEI dan SKK Migas diminta menghentikan rencana survei.
“Jika tak mampu berdialog secara terbuka dan jujur dengan masyarakat, lebih baik hentikan langkah dan tinggalkan laut kami.” jelasnya.
Namun, suara Agus tak berhenti pada penolakan. Ia dan GARIS-K menawarkan pandangan alternatif: pembangunan yang berbasis pada kearifan lokal, kelestarian lingkungan, dan partisipasi masyarakat.
“Kami bermimpi tentang laut yang sehat, pulau yang kuat, dan warga yang berdaulat. Kami ingin pendidikan yang adil, infrastruktur yang layak, dan pemimpin yang tidak hanya hadir saat butuh suara, tapi benar-benar mencintai tanah ini,” ungkapnya.
Di akhir, Agus menyerukan ajakan moral kepada seluruh pemuda dan mahasiswa asal Kangean. Ia mengingatkan bahwa tanggung jawab menjaga ruang hidup bukan hanya milik generasi tua.
“Saat mereka datang dengan alat berat dan kapal canggih, kami hanya punya suara dan keberanian. Tapi sejarah negeri ini selalu ditulis oleh rakyat biasa yang berani berdiri melawan ketidakadilan. Dan kini, giliran kami menulis halaman itu,” pungkasnya. (REDJAVA****)












