JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Siapa sangka, dari balik tembok dan jeruji besi yang selama ini identik dengan keterbatasan, kini lahir kobaran semangat, harapan, dan rasa kemanusiaan yang membuncah di tengah hutan perkemahan. Tiga hari penuh makna di Perkemahan Satya Dharma Bhakti Pemasyarakatan (SDBP) 2025 menjadi bukti bahwa tak ada yang benar-benar hilang dari seorang manusia selama masih ada ruang untuk berubah, untuk bertumbuh, dan untuk kembali menjadi bagian dari masyarakat.
Kegiatan yang diikuti oleh ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dari berbagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) se-Jawa Timur ini bukan sekadar ajang perkemahan biasa. Di sinilah, manusia-manusia yang pernah tersesat menemukan kembali jati dirinya—melalui baris-berbaris, penjelajahan, kerja tim, dan terutama melalui malam pentas seni yang magis di bawah cahaya api unggun.
Rutan Kelas IIB Sumenep mengirimkan lima orang WBP sebagai kontingen lima sosok yang membawa nama baik lembaga, namun lebih dari itu: membawa harapan baru bagi masa depan mereka sendiri.
“Kegiatan ini bukan hanya tentang Pramuka. Ini tentang karakter, tentang keberanian untuk berubah, dan tentang hakikat manusia yang tidak boleh dikunci hanya karena masa lalu. Kami ingin para warga binaan merasakan bahwa mereka tetap berharga, bahwa mereka masih punya potensi untuk berkontribusi bagi masyarakat ketika saatnya tiba. Ini adalah investasi moral dan sosial jangka panjang. Bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk bangsa ini.” kata Heri Sutriadi, Kepala Rutan Sumenep, Rabu (23/07/2025)
Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini akan terus didorong dan dikembangkan sebagai bagian dari strategi pembinaan berbasis nilai dan keterampilan. Harapannya, setiap warga binaan yang kembali ke tengah masyarakat bisa membawa semangat baru yang lebih produktif, bertanggung jawab, dan berintegritas.
“Dalam malam puncak api unggun, para WBP tampil membawakan pertunjukan seni yang menyentuh hati: ada yang menyanyikan lagu perjuangan dengan gitar akustik, ada yang membawakan drama kehidupan yang mengajak merenung, dan tak ketinggalan, tarian daerah yang memukau dan menyatukan keberagaman,” ujarnya.
Di antara tepuk tangan dan sorak sorai, tak sedikit petugas, pembina, dan bahkan sesama WBP yang menitikkan air mata. Bukan karena sedih, tapi karena terharu melihat api semangat yang kembali menyala dalam diri mereka api yang sempat padam oleh kesalahan masa lalu, kini berkobar lagi membawa cahaya masa depan.
“Perkemahan SDBP 2025 dengan semboyan “Bakti, Setia, dan Dharma” ini tak hanya menjadi ajang evaluasi program pembinaan, tapi telah menjelma menjadi ruang rekonstruksi jiwa: tempat warga binaan kembali membangun nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan cinta tanah air,” jelasnya.
Dan ketika tenda-tenda mulai dibongkar dan para peserta kembali ke tempat asalnya, satu hal yang pasti tak ikut pulang adalah ketakutan akan masa depan. Yang tertinggal hanyalah keyakinan baru: bahwa hidup bisa diulang, dan setiap manusia betapapun kelam masa lalunya berhak mendapat kesempatan kedua.
“Kami percaya, ketika kita memberikan ruang untuk perubahan, maka akan lahir pribadi-pribadi yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Perkemahan ini adalah titik awal dari perjalanan besar menuju pemulihan dan penerimaan,” pungkasnya. (REDJAVA****)












