JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Suasana hangat dan penuh nostalgia menyelimuti pertemuan alumni SMA Yayasan Pesantren angkatan 1983 yang menggelar halal bihalal di Cafe Bungzoe, Senin (23/3/2026).
Puluhan alumni lintas latar belakang tampak larut dalam kebersamaan, menghadirkan kembali kenangan masa putih abu-abu yang tak lekang oleh waktu.
Sejak awal acara, gelak tawa dan cerita masa lalu bersahutan. Momen ini bukan sekadar temu kangen, tetapi juga menjadi ruang emosional untuk merajut kembali ikatan persaudaraan yang telah terjalin lebih dari empat dekade.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perwakilan panitia, Umar Shahab, menegaskan bahwa halal bihalal ini bukan hanya agenda seremonial, melainkan wadah memperkuat ukhuwah dan solidaritas antaralumni.
“Ini bukan sekadar pertemuan biasa. Di sini ada energi kebersamaan yang terus kami rawat, sebagai bentuk komitmen menjaga silaturahmi lintas generasi,” ujar Umar dengan penuh semangat.
Ia menambahkan, ke depan kegiatan ini akan dikemas lebih variatif dengan menghadirkan tausiah keagamaan dan aktivitas yang memberi nilai tambah bagi para alumni.
Sementara itu, suasana haru terasa saat perwakilan guru, Bambang, menyampaikan pesan mendalam di hadapan para alumni. Ia mengajak seluruh peserta untuk mengenang jasa para guru dan pendiri sekolah yang telah menjadi fondasi perjalanan hidup mereka.
“Mari kita kirimkan doa terbaik untuk para guru dan pendiri. Tanpa mereka, kita tidak akan berada di titik ini. Semoga amal ibadah mereka diterima dan diampuni segala khilafnya,” ucapnya dengan nada penuh harap.
Tak hanya itu, Bambang juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan di usia yang tak lagi muda, agar kebersamaan seperti ini bisa terus terjaga di masa mendatang.
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Munir secara khidmat, dilanjutkan dengan ramah tamah dan tradisi saling bersalaman. Ucapan “minal aidzin wal faizin” bergema, menandai kuatnya semangat saling memaafkan pasca-Ramadan.
Kemeriahan semakin terasa saat hiburan spontan dari para alumni dan guru menghidupkan suasana. Malam itu, Cafe Bungzoe tak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi saksi hidup bagaimana waktu boleh berlalu, namun persaudaraan tetap abadi. (REDJAVA****)









