JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Rentetan bencana alam kembali melanda wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep sepanjang Desember 2025 hingga Januari 2026. Kebakaran, angin kencang, hingga hujan deras disertai angin kencang tercatat menyebabkan kerusakan berat pada belasan rumah warga serta satu fasilitas pendidikan di Kecamatan Sapeken, Raas, dan Arjasa.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep mencatat sedikitnya 14 kejadian bencana dalam kurun waktu tersebut. Kecamatan Sapeken menjadi wilayah terdampak paling dominan, terutama di Desa Pagerungan Besar, Sabuntan, Sepanjang, Saor Saebus, hingga Pagerungan Kecil.
Sementara di Kecamatan Raas dan Arjasa, angin kencang menyebabkan sejumlah rumah warga rusak berat.
Kepala BPBD Kabupaten Sumenep, Achmad Laili Maulidi, mengatakan bahwa intensitas cuaca ekstrem di wilayah kepulauan meningkat signifikan akibat dinamika angin musim dan kondisi geografis wilayah laut terbuka.
“Wilayah kepulauan memang memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terhadap angin kencang dan hujan ekstrem. Dalam beberapa pekan terakhir, pola cuaca menunjukkan potensi bahaya yang tidak bisa dianggap ringan,” kata Achmad Laili Maulidi, Jum’at (06/02/2026)
Ia menjelaskan, dari seluruh kejadian yang tercatat, sebagian besar berdampak pada kerusakan struktural rumah warga, mulai dari atap terangkat, dinding roboh, hingga bangunan yang tidak lagi layak huni. Bahkan, satu sekolah menengah pertama Islam di Desa Sepanjang dilaporkan mengalami ambruk sebagian pada bagian atap.
“Kerusakan yang terjadi mayoritas masuk kategori rusak berat. Ini tentu menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan dan kelangsungan hidup warga terdampak,” ujarnya.
BPBD Sumenep, lanjut Achmad Laili, telah melakukan pendataan awal di lapangan melalui koordinasi dengan aparat desa, kecamatan, serta relawan kebencanaan setempat. Hasil pendataan tersebut akan menjadi dasar penyaluran bantuan darurat maupun usulan bantuan lanjutan kepada pemerintah daerah dan provinsi.
“Kami pastikan seluruh korban terdampak akan masuk dalam skema penanganan. Mulai dari bantuan logistik darurat, terpal, hingga fasilitasi perbaikan rumah sesuai ketentuan yang berlaku,” tegas Achmad Laili Maulidi.
Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah pesisir dan kepulauan, agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
“Kami mengingatkan warga untuk selalu waspada, memperkuat struktur bangunan seadanya, dan segera melapor apabila terjadi kondisi darurat agar bisa segera ditangani,” jelasnya.
Menurut Achmad Laili, upaya mitigasi dan edukasi kebencanaan akan terus diperkuat, termasuk melalui sosialisasi kesiapsiagaan bencana berbasis desa, agar masyarakat tidak hanya menjadi korban, tetapi juga bagian dari sistem peringatan dini.
“Bencana tidak bisa kita hindari sepenuhnya, tetapi dampaknya bisa kita kurangi. Kuncinya ada pada kesiapsiagaan bersama antara pemerintah dan masyarakat,” pungkas Laili sapaannya.
BPBD Kabupaten Sumenep menegaskan komitmennya untuk terus siaga dan responsif, terutama dalam menghadapi dinamika cuaca ekstrem yang kerap mengancam wilayah kepulauan Madura bagian timur tersebut. (REDJAVA/$$$)












