JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Ikatan Santri Alumni Pondok Pesantren Hidayatul Ulum Utara, Desa Gadu Barat, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, kembali menggelar acara Halal Bihalal bersama pengasuh dan Majelis Keluarga Pesantren, Selasa (08/04).
Kegiatan tahunan ini berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan, dihadiri lebih dari 400 alumni dari berbagai daerah.
Ketua panitia, Fifin Fitria, menjelaskan bahwa kegiatan ini rutin diadakan setiap tanggal 9 Syawal sebagai momentum memperkuat silaturrahim antar alumni dan antara alumni dengan para masyayikh pesantren.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tahun ini adalah kali kedua kami menggelar Halal Bihalal di almamater tercinta. Alhamdulillah, jumlah peserta meningkat dibanding tahun lalu. Kami berharap, acara ini terus berlanjut setiap tahun dan menjadi wadah membangun sinergisitas dengan harkah perjuangan para pendiri pesantren,” ujarnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Ulum Utara, KH. Achmad Qusyairi Zaini, S.S., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif para alumni.
Ia menekankan pentingnya kegiatan tersebut sebagai sarana membangun harmoni dan mempererat ikatan emosional yang telah terjalin sejak di pesantren.

“Acara ini sangat mulia. Namun jangan berhenti sebagai rutinitas seremonial saja. Jadikanlah momen ini sebagai wasilah menyambung hati antara alumni dengan guru-gurunya, juga sesama sahabat seperjuangan lintas generasi,” tutur Kyai Qusyairi.
Lebih lanjut, beliau mengutip pandangan para ulama mengenai pentingnya hubungan spiritual antara murid dan guru.
“Ilmu itu akan barokah jika hati murid terhubung dengan gurunya. Bahkan, hubungan itu tetap harus dijaga, termasuk kepada guru-guru yang telah wafat, dengan mengirimkan Fatihah atau menziarahi maqbarahnya,” tandasnya.
Pembacaan manaqib muassis disampaikan oleh K. Moh. Maltuf Zaini. Acara semakin semarak dengan tausiyah keagamaan dari KH. Mohammad Hodri, ulama kharismatik asal Darmista, Lenteng, yang memberikan siraman rohani mengenai pentingnya ukhuwah Islamiyah dan nilai-nilai keikhlasan dalam menuntut ilmu.
Suasana penuh kehangatan dan keharuan menyelimuti kegiatan yang berlangsung hingga sore hari tersebut. Silaturrahim, tawa, dan nostalgia menyatu dalam satu ikatan: cinta kepada pesantren dan para masyayikh. (REDJAVA****)










