JAVANETWORK.CO.ID.SURABAYA – Politikus muda Partai NasDem, Taufiq MS, menilai langkah pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh lintas latar belakang tahun ini patut diapresiasi. Ia menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk keberanian negara dalam menegakkan keadilan sejarah.
Salah satu penerima gelar adalah seorang kiai asal Madura, guru dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari. Bagi Taufiq, hal itu menjadi bukti pengakuan negara terhadap peran besar para ulama dan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan.
“Pemerintah telah menunjukkan sikap berkeadilan sejarah. Bahwa pahlawan bukan hanya mereka yang berjuang di medan tempur, tetapi juga para kiai dan guru bangsa yang menanamkan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemerdekaan,” ujar Taufiq di Surabaya, Senin (10/11).
Tak hanya itu, Taufiq juga memberi apresiasi khusus terhadap penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk Marsinah, aktivis buruh perempuan yang gugur dalam memperjuangkan hak-hak pekerja pada awal 1990-an.
“Marsinah adalah simbol perjuangan kelas pekerja dan keberanian perempuan melawan ketidakadilan. Ia pantas mendapatkan gelar itu bahkan mungkin sudah lama layak,” tegasnya.
Namun di balik rasa hormatnya, Ketua Ikatan Alumni FISIP UIN Sunan Ampel (UINSA) itu menyoroti ironi sejarah dalam keputusan tahun ini. Sebab, di tahun yang sama, Presiden Soeharto, penguasa di era ketika kebebasan buruh kerap dibungkam, juga mendapatkan gelar serupa.
“Ada ironi sejarah di sana. Di satu sisi kita memuliakan korban perjuangan buruh, di sisi lain kita juga memuliakan penguasa pada masa ketika suara buruh dibungkam. Ini paradoks yang perlu menjadi bahan refleksi bersama,” ungkap Taufiq.
Lebih jauh, Taufiq menegaskan bahwa penganugerahan gelar Pahlawan Nasional semestinya tidak berhenti pada seremoni tahunan, melainkan menjadi pengingat moral dan politik bagi bangsa untuk terus berpihak kepada rakyat kecil, kaum guru bangsa, serta para pejuang keadilan sosial.
“Semangat para kiai dan aktivis seperti Marsinah adalah napas bangsa ini. Jangan sampai penghargaan itu berhenti sebagai simbol tanpa makna perjuangan,” pungkasnya. (REDJAVA****)











