JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Indonesia mulai menapaki babak baru dalam industri teknologi global. Di tengah momentum tersebut, Wiraraja Group menggandeng mitra strategis asal Amerika Serikat untuk membangun industri semikonduktor di Batam, dengan nilai investasi awal mencapai US$4,9 miliar atau setara Rp82,88 triliun.
Nilai investasi itu bahkan berpotensi melonjak hingga US$26,7 miliar atau sekitar Rp533,09 triliun apabila pengembangan tahap awal berjalan sesuai rencana.
Di balik proyek raksasa ini, berdiri sosok saudagar asal Sumenep, Akhmad Ma’ruf Maulana, yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Galang Bumi Industri sekaligus penggerak utama Wiraraja Group.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal tersebut disampaikan oleh Akhmad Ma’ruf Maulana usai menggelar pengajian dan doa bersama di kediamannya di Jalan Imam Bonjol, Desa Pamolokan, Minggu (22/3/2026).
“Kami ingin memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen dalam industri semikonduktor dunia,” kata Haji Akhmad Ma’ruf Maulana.
Kerja sama strategis ini melibatkan Essence Global Group dan Tynergy Technology Corporation USA, yang ditandai melalui penandatanganan Joint Development Agreement (JDA) pada 18 Februari 2026.
Proyek ini digarap melalui PT Galang Bumi Industri sebagai pengelola kawasan Wiraraja Green Renewable Energy & Smart Eco-Industrial Park (GESEIP) di Galang, Batam sebuah kawasan industri yang dirancang terintegrasi dengan energi bersih dan teknologi tinggi.
Menurut Haji Ma’ruf, investasi besar ini bukan sekadar proyek bisnis, melainkan langkah strategis untuk mendorong kemandirian industri nasional di sektor teknologi tinggi.
“Ini adalah momentum bagi Indonesia untuk naik kelas, dari sekadar pengguna teknologi menjadi bagian dari rantai produksi global,” ujarnya.
Ia menilai, kehadiran industri semikonduktor di dalam negeri akan membawa dampak luas, mulai dari transfer teknologi hingga penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Pemilihan Batam sebagai lokasi proyek dinilai strategis karena berada di jalur perdagangan internasional serta didukung infrastruktur yang memadai.
“Batam memiliki keunggulan geografis dan kesiapan infrastruktur. Kami melihat ini sebagai pintu masuk Indonesia ke rantai pasok global,” ungkapnya.
Lebih jauh, proyek ini juga dirancang dengan pendekatan berkelanjutan yang mengedepankan energi hijau.
“Kami membangun kawasan industri yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga ramah lingkungan dan berorientasi jangka panjang,” pungkas Akhmad Ma’ruf sapaan akrabnya.
Perjalanan Haji Ma’ruf menuju titik ini bukanlah hal yang instan. Lahir di Sumenep, ia mengawali hidup sebagai perantau dengan berbagai pekerjaan serabutan dari buruh cuci mobil hingga kernet bus.
Dari usaha kecil di sektor plastik, ia perlahan membangun bisnis hingga merambah industri besar dan energi. Ketekunan dan keberanian mengambil risiko menjadi kunci perjalanan panjangnya.
Kini, selain memimpin perusahaan, ia juga dipercaya sebagai Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia periode 2025–2029.
Masuknya investasi dari Amerika Serikat menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan global terhadap Indonesia. Proyek ini diproyeksikan membuka jalan bagi Indonesia untuk masuk lebih dalam ke industri semikonduktor dunia.
Jika terealisasi penuh, Batam berpotensi menjadi salah satu pusat industri chip di Asia Tenggara sekaligus mempertegas posisi Indonesia dalam peta industri global. (REDJAVA****)








