JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di momen peringatan Hari Perempuan Sedunia 2025 tepatnya dirayakan setiap tanggal 8 Maret, sosok Nia Kurnia Fauzi hadir sebagai simbol perjuangan perempuan dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan setara.
Sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Sumenep, ia terus memperjuangkan peran perempuan sebagai kekuatan utama dalam pembangunan, bukan sekadar pelengkap dalam kehidupan sosial.
Nia Kurnia Fauzi menegaskan bahwa perempuan harus diberikan ruang lebih luas untuk berkontribusi, baik di sektor ekonomi, politik, sosial, hingga kebijakan publik.
Ia menolak anggapan bahwa perempuan hanya bisa berperan di balik layar dan mendorong mereka untuk aktif berpartisipasi dalam pembangunan daerah.
“Perempuan memiliki potensi luar biasa. Kita tidak boleh lagi terjebak dalam stigma bahwa perempuan hanya berperan di ranah domestik. Saatnya perempuan berdiri sejajar, bersuara, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan daerah,” kata istri Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo dalam keterangan tertulis, Sabtu (08/03/2025).
Dirinya memiliki komitmen dalam memperjuangkan hak perempuan tidak hanya sebatas wacana.
Ia juga mengambil langkah nyata dengan mendorong masuknya Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ke dalam Program Pembentukan Peraturan Daerah (Propemperda) 2025.
Kebijakan ini menjadi tonggak penting dalam upaya melindungi perempuan dari kekerasan yang selama ini kerap menjadi isu tersembunyi di masyarakat.
Dengan adanya regulasi yang lebih jelas dan ketat, diharapkan kasus-kasus KDRT dapat diminimalisir, dan korban mendapatkan perlindungan serta pendampingan yang memadai.
Selain itu, ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut serta dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi perempuan.
Ketua TP PKK Kabupaten Sumenep menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama.
“Perempuan yang merasa aman dan terlindungi akan lebih berdaya dalam menjalankan peran mereka di berbagai aspek kehidupan. Kita harus memastikan bahwa mereka mendapatkan hak yang sama dan terbebas dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi,” ujarnya.
Selain advokasi kebijakan, Nia Kurnia Fauzi juga berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan perempuan, khususnya di daerah pedesaan.
Pihaknya menggagas berbagai program pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian finansial kaum perempuan.
Melalui program ini, perempuan di desa-desa diberikan pelatihan keterampilan seperti wirausaha, pengolahan hasil pertanian, kerajinan tangan, hingga pemasaran digital agar mereka memiliki sumber penghasilan sendiri. Dengan begitu, mereka tidak lagi bergantung secara ekonomi dan memiliki daya tawar lebih kuat dalam kehidupan sosial.
“Ketika perempuan memiliki kemandirian ekonomi, mereka akan lebih berani bersuara dan menentukan arah hidupnya sendiri. Inilah yang saya perjuangkan, agar perempuan di Sumenep memiliki kehidupan yang lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat,” ungkapnya.
Salah satu program yang telah berjalan sukses adalah pemberdayaan UMKM perempuan berbasis produk lokal, yang melibatkan ratusan ibu rumah tangga dalam industri rumahan seperti batik tulis khas Sumenep, olahan hasil laut, hingga kerajinan tangan yang kini telah dipasarkan ke luar daerah.
Langkah konkret yang dilakukan Nia Kurnia Fauzi membuktikan bahwa perempuan bukan hanya berhak atas kesetaraan, tetapi juga memiliki kuasa untuk menciptakan sejarah. Ketegasan sikap dan dedikasi yang tinggi membuatnya menjadi figur inspiratif yang mampu menggugah kesadaran kolektif tentang pentingnya peran perempuan dalam pembangunan daerah.
Dengan semangat perubahan yang terus ia gaungkan, Nia Kurnia Fauzi mengukuhkan dirinya sebagai pemimpin perempuan yang tidak hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi juga bekerja keras untuk mewujudkannya.
Istri Bupati Sumenep itu menjadi bukti bahwa perempuan bukan hanya pendamping, tetapi motor penggerak yang mampu membawa perubahan besar bagi masa depan bangsa.
“Perempuan yang kuat adalah perempuan yang berani bermimpi, berjuang, dan tidak takut mengambil peran. Mari kita bersama-sama menciptakan dunia yang lebih adil, di mana perempuan memiliki tempat yang sejajar dan dihargai atas kontribusinya,” pungkasnya.
Dengan visi dan dedikasi yang ia tunjukkan, Hari Perempuan Sedunia 2025 di Sumenep bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi menjadi momentum nyata bagi kebangkitan perempuan dalam membangun daerah dan bangsa yang lebih maju. (REDJAVA****)












