JAVANETWORK.CO.ID.MADINAH – Perjalanan spiritual ibadah umrah Wakil Bupati Sumenep, KH. Imam Hasyim, S.H., M.H., tak sekadar menjadi momentum spiritual personal.
Di Kota Madinah, ia menapaki jejak sejarah Islam, merefleksikan makna amanah kepemimpinan yang lahir dari persatuan dan musyawarah umat.
Di sela rangkaian ibadah di Masjid Nabawi, KH Imam Hasyim bersama rombongan jemaah memperbanyak doa dan munajat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Suasana khusyuk terasa begitu mendalam di masjid yang menjadi pusat peradaban Islam dan tempat dimakamkannya Rasulullah SAW tersebut.
“Di Masjid Nabawi ini kita merasakan betapa kuatnya nilai persaudaraan dan keteladanan Rasulullah. Ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan harus berlandaskan akhlak dan pelayanan kepada umat,” kata KH Imam Hasyim saat berada di kota Madinah kepada media ini, Kamis (26/02/2026).
Perjalanan spiritual itu berlanjut ke Masjid Ghamamah, lokasi bersejarah yang diyakini sebagai tempat Rasulullah SAW melaksanakan salat istisqa (meminta hujan).
Di sana, rombongan memanjatkan doa bagi keselamatan dan keberkahan masyarakat Sumenep.

“Tak kalah penting, kami bersama rombongan juga mengunjungi Saqifah Bani Sa’idah tempat pertama kali Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq dibaiat sebagai khalifah pasca wafatnya Rasulullah SAW,” tambahnya.
Situs ini menjadi saksi awal lahirnya sistem kepemimpinan umat Islam yang dibangun atas dasar musyawarah dan tanggung jawab moral.
Bagi Wabup KH Imam Hasyim, ziarah ke Saqifah bukan sekadar kunjungan historis, melainkan ruang perenungan mendalam tentang arti amanah.
“Ketika berada di Saqifah Bani Sa’idah, kita diingatkan bahwa kepemimpinan bukan soal kekuasaan, melainkan tanggung jawab. Ia lahir dari kesepakatan umat dan harus dijalankan dengan kejujuran serta keadilan,” tegasnya.
Ia menambahkan, setiap doa yang dipanjatkan di Tanah Suci diniatkan untuk kemajuan Kabupaten Sumenep agar senantiasa diberi keberkahan, persatuan, dan kesejahteraan.
Perjalanan spiritual ini menegaskan bahwa umrah bukan sekadar ritual ibadah, melainkan momentum memperkuat integritas, memperdalam nilai keikhlasan, serta meneguhkan komitmen pengabdian kepada masyarakat.
Dari Kota Nabi, pesan itu mengalir: kepemimpinan sejati tumbuh dari spiritualitas dan keberanian menjaga amanah umat. (REDJAVA****)










