JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Madrasah Tsanawiyah (MTs) Unggulan At Taufiqiyah Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya pendidik melalui penguatan profesionalisme guru.
Salah satu upaya konkret tersebut diwujudkan dengan menggelar kegiatan Teacher Professional Development (TPD) bertajuk “Aksi Nyata Panca Cinta: Membangun Madrasah Humanis melalui Kurikulum Cinta.”
Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin, 26 Januari 2026, dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai di Laboratorium Komputer MTs Unggulan At Taufiqiyah, yang merupakan lembaga Wabup Sumenep, KH. Imam Hasyim ini dihadiri sekitar 40 peserta, sebagian besar guru dan tenaga kependidikan dari madrasah tersebut. Kegiatan tersebut menunjukkan sinergi antara institusi pendidikan dan pemerintah daerah dalam pengembangan kualitas guru.
Dalam kesempatan ini, pihak madrasah secara khusus menghadirkan Fathor Arifin, M.Pd sebagai pemateri utama/tutor, yang dinilai memiliki kompetensi dan pengalaman dalam pengembangan profesionalisme guru berbasis nilai-nilai humanis dan kebudayaan pendidikan.
Kepala MTs Unggulan At Taufiqiyah, Muhyid, M.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari strategi jangka panjang madrasah dalam membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam pembentukan karakter peserta didik.
“Teacher Professional Development ini kami maknai sebagai ruang refleksi sekaligus transformasi bagi para guru, agar mampu menghadirkan proses pembelajaran yang lebih manusiawi, berorientasi pada nilai, serta selaras dengan ruh Kurikulum Cinta,” kata Muhyid.
Muhyid menambahkan, konsep Kurikulum Cinta menjadi bagian dari upaya madrasah dalam menciptakan lingkungan belajar yang hangat, inklusif, dan memperkuat nilai-nilai sosial serta spiritual bagi siswa.
Sementara ditempat yang sama, Fathor Arifin, M.Pd, selaku pemateri, menegaskan bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini tidak cukup dijawab hanya dengan peningkatan kompetensi teknis guru, tetapi juga memerlukan sentuhan nilai dan kesadaran kemanusiaan yang mendalam.
“Guru hari ini tidak hanya dituntut menguasai metode dan teknologi pembelajaran, tetapi juga harus mampu menghadirkan nilai cinta, empati, dan keteladanan dalam setiap proses pendidikan,” ujar Fathor Arifin.
Ia menjelaskan bahwa konsep Aksi Nyata Panca Cinta merupakan bentuk konkret dari internalisasi nilai-nilai pendidikan yang berakar pada kemanusiaan, kebangsaan, dan spiritualitas, yang relevan diterapkan di lingkungan madrasah.
“Madrasah humanis adalah madrasah yang memanusiakan manusia. Di situlah Kurikulum Cinta bekerja, bukan sekadar sebagai konsep, tetapi sebagai praktik nyata dalam interaksi guru dan siswa,” lanjutnya.
Fathor menilai, kegiatan pengembangan profesional guru seperti TPD sangat penting untuk menjaga relevansi pendidikan Islam di tengah perubahan sosial yang begitu cepat. Guru, menurutnya, harus terus diberi ruang belajar agar mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
“Teacher Professional Development bukan sekadar pelatihan formal, melainkan ikhtiar berkelanjutan untuk membangun kesadaran profesional dan moral guru dalam mendidik generasi masa depan,” ungkapnya.
Alumni SMAN 1 93 juga mengapresiasi langkah MTs Unggulan At Taufiqiyah yang secara konsisten menginisiasi kegiatan peningkatan kapasitas guru berbasis nilai.
“Saya melihat MTs Unggulan At Taufiqiyah memiliki visi yang jelas dalam membangun pendidikan yang berkarakter. Ini penting agar madrasah tidak hanya unggul secara institusional, tetapi juga bermakna secara sosial,” tutur Fathor.
Lebih jauh, Fathor menekankan bahwa Kurikulum Cinta tidak bertentangan dengan kurikulum nasional, melainkan menjadi penguat dimensi afektif dan etis dalam pelaksanaannya.
“Kurikulum Cinta justru memperkaya kurikulum yang ada, karena ia menempatkan cinta sebagai fondasi pendidikan cinta pada ilmu, pada sesama, pada lingkungan, dan pada nilai-nilai kebangsaan,” tandasnya.
Kegiatan Bimtek Kurikulum Berbasis Cinta ini juga menjadi bagian dari ikhtiar madrasah dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21, tanpa meninggalkan akar nilai keislaman dan kearifan lokal yang selama ini menjadi kekuatan lembaga pendidikan berbasis pesantren. (REDJAVA/$$$)












