JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Proses penentuan awal Syawal 1447 Hijriah di Kabupaten Sumenep berlangsung dalam suasana penuh harap, namun berujung tanpa kepastian visual.
Tim rukyatul hilal Kementerian Agama (Kemenag) Sumenep tidak berhasil melihat hilal saat melakukan pengamatan di Pantai Tanaros, Kamis (19/03) petang, akibat langit yang tertutup awan tebal.
Ketua Tim Rukyatul Hilal Kemenag Sumenep, H. Faisal, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca menjadi faktor utama kegagalan pengamatan, meskipun secara perhitungan astronomi posisi hilal telah berada di atas ufuk.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Langit di ufuk barat tertutup mendung tebal, sehingga hilal tidak dapat teramati, baik dengan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu optik,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Data hisab yang dihimpun tim menunjukkan bahwa matahari terbenam pada pukul 17.36 WIB, sementara hilal berada di atas ufuk selama 9 menit 4 detik sebelum akhirnya terbenam pada pukul 17.45 WIB.
Secara matematis, tinggi hilal tercatat 2 derajat 19 menit 42 detik, dengan elongasi mencapai 5 derajat 28 menit 10 detik angka yang secara teori sudah mendekati ambang visibilitas.
Namun, realitas di lapangan berkata lain. Cuaca yang tidak bersahabat membuat seluruh upaya observasi menjadi tidak optimal.
“Secara hisab hilal sudah memenuhi posisi, tetapi visibilitasnya sangat dipengaruhi kondisi atmosfer. Dalam situasi seperti ini, kami tidak bisa memastikan keberadaannya secara langsung,” kata Faisal.
Selain faktor awan, kondisi cuaca di lokasi pengamatan juga menunjukkan suhu udara sekitar 29 derajat Celsius, kecepatan angin 8 kilometer per jam, dan tingkat kelembapan mencapai 79 persen kombinasi yang dinilai turut memengaruhi kejernihan pandangan di ufuk barat.
Meski tidak mendapatkan hasil rukyat, tim Kemenag Sumenep bersama sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam tetap mengacu pada hasil hisab untuk memperkirakan awal Hari Raya Idulfitri.
“Berdasarkan perhitungan yang kami lakukan, Idulfitri berpotensi jatuh pada 21 Maret 2026,” tegasnya.
Di sisi lain, masyarakat yang hadir di lokasi pengamatan tetap antusias mengikuti jalannya proses rukyat hingga selesai.
Momen ini menjadi bagian penting dalam tradisi penentuan kalender Hijriah yang setiap tahunnya selalu dinanti, meski hasilnya bergantung pada perpaduan antara perhitungan ilmiah dan kondisi alam.
Keputusan resmi mengenai penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah sendiri tetap menunggu hasil sidang isbat yang digelar pemerintah pusat. (REDJAVA****)









