JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Warga Pulau Masalembu hingga kini masih belum menikmati aliran listrik dari PLN. Program “Indonesia Terang” yang dicanangkan pemerintah sejak 2019 ternyata belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat, khususnya di Desa Masalima dan Sukajeruk.
Menyikapi kondisi tersebut, Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SSNU) Cabang Masalembu bersama masyarakat melayangkan surat kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk menindaklanjuti percepatan pembangunan pembangkit listrik di Pulau Masalembu.
Ketua SNNU Masalembu, Jailani, mengungkapkan bahwa surat tersebut dikirim pada 25 Februari 2025 dan mendapat respons cepat dari Kementerian ESDM.
“Alhamdulillah, pada 14 Maret 2025 kemarin kami diundang untuk rapat bersama sejumlah pihak terkait guna membahas percepatan pembangunan listrik di Pulau Masalembu,” ujar Jailani kepada media ini, Sabtu (22/03/2025).
Dalam rapat tersebut, hadir berbagai pihak, termasuk Bupati Sumenep, Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan, Koordinator Perencanaan Distribusi Tenaga Listrik, Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur, serta perwakilan dari PT PLN (Persero).
Jailani menambahkan bahwa Kecamatan Masalembu terdiri dari tiga pulau, yakni Pulau Karamian, Pulau Masakambing, dan Pulau Masalembu. Meskipun Pulau Masalembu menjadi pusat pemerintahan, hingga kini belum tersambung listrik dari PLN.
Menurutnya, pada 2020 PLN telah memasang tiang listrik di Pulau Karamian dan Pulau Masalembu.
Namun, hanya Pulau Karamian yang telah menikmati listrik, sedangkan Pulau Masalembu masih bergantung pada genset dan panel surya.
“Penyebab utama keterlambatan ini adalah kendala anggaran dan pembebasan lahan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS),” jelasnya.
Sementara itu, pihak PT PLN (Persero) menjelaskan bahwa proyek pembangunan PLTS Komunal di Pulau Karamian telah selesai dan beroperasi sejak 2024. Namun, pembangunan serupa di Pulau Masalembu masih terkendala penyediaan lahan.
PLN merancang penyelesaian pembangunan listrik untuk Desa Masalima dan Sukajeruk melalui dua tahap:
1. Tahap 1 (2026): Pembangunan PLTS 185 kWp serta Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 30,1 km di Desa Masalima dan 27,89 km di Desa Sukajeruk.
2. Tahap 2 (2027): Pembangunan tambahan PLTS berkapasitas 850 kWp.
Namun, realisasi proyek ini masih bergantung pada anggaran Penyertaan Modal Negara (PMN), yang hingga kini belum tersedia.
Dari hasil musyawarah, PLN bersama Pemkab Sumenep dan SSNU Masalembu akan terus berkoordinasi untuk menyelesaikan permasalahan lahan PLTS. Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM juga berjanji akan mengawal perkembangan proyek hingga beroperasi penuh.
Ketua SNU Masalembu berharap pemerintah memastikan kapasitas pembangkit listrik yang cukup, agar masyarakat bisa menikmati listrik 24 jam, tidak hanya untuk penerangan tetapi juga untuk mendukung sektor perikanan, pendidikan, kesehatan, dan pariwisata.
“Dengan adanya kejelasan ini, kami sangat berterima kasih. Kami berharap semua pihak bisa bersinergi untuk mempercepat pembangunan listrik di Pulau Masalembu demi kebaikan bersama,” pungkas Jailani. (REDJAVA****)












