JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Di balik selembar ijazah, tersimpan cerita tentang perjuangan, pengorbanan, dan cita-cita. Begitu juga bagi Erfandi, Pemimpin Redaksi Suarademokrasi dan Penademokrasi, yang baru saja menyandang gelar Sarjana Hukum dari Universitas Wiraraja Sumenep.
Baginya, gelar itu bukan akhir perjalanan, melainkan awal untuk menegakkan kebenaran dan memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Bagi saya, gelar sarjana bukan sekadar rangkaian huruf di belakang nama. Ia adalah bukti perjalanan intelektual dan penghormatan kepada dunia pendidikan. Tapi yang lebih penting, ia adalah komitmen untuk terus berjuang di jalan kebenaran.” kata Erfandi kepada media ini, Minggu (09/11/2025).
Erfandi meyakini bahwa ilmu hukum yang ia pelajari tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjadi fondasi moral dalam dunia jurnalistik yang digelutinya. Menurutnya, jurnalisme dan hukum memiliki satu ruh yang sama: menegakkan keadilan dan melindungi kebenaran dari kebohongan kekuasaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dalam jurnalistik, ilmu hukum adalah cahaya. Ia mengajarkan kita bahwa setiap peristiwa harus diuji kebenarannya, dan setiap tindakan kekuasaan wajib diawasi oleh nurani serta hukum itu sendiri,” tutur Erfandi dengan nada tegas.
Namun, di balik semangat itu, ia juga menyampaikan pesan yang menggugah tentang makna sejati ilmu pengetahuan. Erfandi menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari tingginya pendidikan, melainkan dari seberapa besar manfaat ilmu yang ia amalkan.
“Gelar bukan penentu kemuliaan seseorang, sebab ilmu tanpa iman hanyalah kesombongan yang dibungkus kecerdasan. Hari ini kita melihat banyak orang bersekolah tinggi, tapi ilmunya justru digunakan untuk memanipulasi hukum dan menindas yang lemah. Ini realitas yang menyedihkan.” sambungnya.
Menurut Erfandi, nilai sejati dari pendidikan terletak pada amal, bukan hanya pada angka kelulusan atau gelar akademik. Ia mengibaratkan ilmu sebagai cahaya, dan amal sebagai jalan yang harus dilalui agar cahaya itu benar-benar menerangi kehidupan.
“Setetes ilmu yang diamalkan lebih berharga daripada lautan ilmu yang tidak diamalkan. Allah tidak melihat seberapa banyak ilmu yang kita miliki, tapi seberapa besar manfaatnya bagi sesama.” ujarnya penuh makna.
Bagi Erfandi, menjadi sarjana hukum berarti memikul tanggung jawab besar: menjaga nurani dalam setiap pena yang menulis kebenaran, dan memastikan suara rakyat tetap hidup di ruang publik. Ia menutup pesannya dengan refleksi mendalam.
“Ilmu yang sedikit namun bermanfaat akan menuntun kita menuju keselamatan. Tapi ilmu yang banyak dan disalahgunakan hanya akan menyeret pemiliknya ke dalam kehancuran,” pungkasnya.
Melalui pandangan itu, Erfandi ingin mengingatkan bahwa ilmu sejati tidak diukur dari gelar, jabatan, atau pangkat. Ilmu sejati adalah yang memberi cahaya bagi diri sendiri, bagi sesama, dan bagi keadilan. (REDJAVA****)









