JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Nahdlatul Ulama terus meneguhkan komitmennya menjaga tradisi pesantren sebagai pusat lahirnya peradaban dan perjuangan umat.
Salah satu wujudnya terlihat dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-35 yang diketahui akan berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur Agustus mendatang.
Ketua Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH Widadi Rahim, menilai dipilihnya Ponpes Lirboyo sebagai lokasi muktamar menjadi simbol kuat bahwa NU ingin kembali meneguhkan jati dirinya sebagai organisasi yang lahir dari rahim pesantren.
“Dulu Hadratus Syekh menghimpun para masyayikh, para kiai, dan para ulama hingga lahirlah Nahdlatul Ulama. Karena itu, kita tidak boleh melupakan sejarah,” kata KH Widadi Rahim kepada media ini, Kamis (28/05/2026).
Menurutnya, pesantren memiliki posisi penting dalam perjalanan NU, bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga pusat kaderisasi ulama dan penjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
“Oleh karenanya sangat penting sekali Muktamar NU ke-35 ini berbasis pesantren. Ini luar biasa dan menjadi momentum untuk menguatkan kembali ruh perjuangan NU,” ujarnya.
Pelaksanaan muktamar di lingkungan pesantren, lanjut dia, akan memperkuat hubungan emosional warga nahdliyin dengan tradisi keilmuan dan perjuangan para ulama terdahulu.
“NU harus kembali ke pesantren. Harus kembali kepada akar perjuangan para ulama yang sejak awal membangun organisasi ini dengan keikhlasan dan semangat menjaga umat,” tegas KH. Widadi Rahim.
Ia berharap Muktamar NU ke-35 di Ponpes Lirboyo mampu melahirkan keputusan-keputusan strategis yang tetap berpijak pada nilai keilmuan, akhlak, dan tradisi pesantren.
“Pesantren adalah benteng moral dan pusat peradaban NU. Dari pesantren inilah lahir ulama-ulama yang menjaga bangsa dan umat,” pungkasnya. (REDJAVA****)










