JAVANETWORK.CO.ID.ARTIKEL – Di zaman yang katanya serba canggih ini, kita menyaksikan fenomena unik: manusia yang dulu dikenal sebagai makhluk berpikir, kini tampaknya lebih nyaman menjadi makhluk menggulir. Alih-alih membaca dan merenung, kita lebih memilih menonton cuplikan video 15 detik hingga 60 detik dari orang asing yang bahkan tak kita kenal namanya dan bertemu secara langsung, tapi entah bagaimana bisa membuat kita percaya pada ‘kebenaran’ versinya.
Kritik Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death terasa lebih relevan dari sebelumnya. Ia mengingatkan: ketika media bergeser dari teks ke gambar, dari membaca ke menonton, maka bukan hanya caranya kita mengakses informasi yang berubah tapi cara berpikir kita ikut menyusut.
Narasi dikorbankan demi viralitas. Makna diperas habis demi angka view.
Apakah ini kemajuan? Atau regresi yang disamarkan dengan animasi?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang lebih tragis: masyarakat tak hanya konsumtif, tapi juga fanatik terhadap visual. Sepotong video bisa memicu kebencian massal, tanpa ada usaha untuk verifikasi. Logika dan kontekstualisasi kini terdengar seperti tugas berat, kalah pamor dari efek transisi dan filter lucu hingga narasi provokasi.
Maka tak heran, generasi hari ini lebih hafal “template debat panas” ala podcast viral, dibandingkan prinsip dasar berpikir kritis. Padahal, fakta tidak bisa dipotong seperti video. Kebenaran tidak bisa ditarik dari 15-60 detik suara latar dramatis.
Ironis, kita hidup di zaman informasi tapi tenggelam dalam ilusi.
Penulis : Febriyan IBM Foundation
Editor : REDJAVA









