JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah pesisir utara Madura yang selama ini dikenal sebagai wilayah marginal pertanian, sebuah pergerakan besar sedang terjadi diam-diam, tapi berdampak dahsyat.
Dipimpin langsung oleh Kiai Abdul Adhim, sosok kharismatik sekaligus Ketua Padepokan Keraton Langit, gelombang perubahan itu mengalir deras dari sebuah dusun sunyi di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep.
“Jika emas harus ditambang dari dalam bumi, maka kami menanamnya di atas tanah. Dan kami menyebutnya: Melon, Semangka, dan Labu!” tegas Kiai Abdul Adhim kepada media ini, Kamis (08/05/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Apa yang digagasnya bukan sekadar pertanian, tetapi renaissance ala Madura kebangkitan ekonomi desa yang berbasis spiritualitas, teknologi, dan kemandirian.
Ia memimpin ratusan petani muda membalik nasib: dari buruh migran dan pekerja serabutan, menjadi pengusaha hortikultura beromzet ratusan juta rupiah per musim panen.
Di bawah bendera Komunitas Keraton Langit, mereka tidak hanya menanam, tapi menguasai seluruh rantai produksi dan distribusi.
Mulai dari pembibitan unggul, manajemen merek dagang, hingga pemasaran digital yang menjangkau supermarket dan konsumen premium di Jakarta, Surabaya, Kalimantan, bahkan luar Jawa.
“Kami sedang menyiapkan ekspor. Tapi lebih dari itu, kami sedang menanamkan kesadaran: bahwa tanah ini sakral, dan generasi mudanya adalah pewaris kejayaan,” kata Kiai Abdul Adhim.
Tak ada kata mustahil dalam kamus mereka. Dengan semangat gotong royong yang ditanamkan melalui sistem padepokan, para petani milenial ini membangun greenhouse mandiri, laboratorium bibit lokal, hingga platform e-commerce komunitas.
Satu demi satu produk unggulan mereka menjadi primadona pasar:
– Melon Allisa dengan aroma khas dan rasa super manis,
– Semangka Rubi Langit yang renyah dan tahan simpan,
– Labu Japan Sky yang jadi incaran chef hotel berbintang.
Dan semua itu dibangun dari desa. Dari tangan anak-anak muda yang dahulu nyaris menyerah pada nasib.
“Kami tidak sedang bercocok tanam. Kami sedang menulis sejarah baru,” ujarnya.
Fenomena Keraton Langit bukan sekadar cerita sukses pertanian. Ia telah menjadi model regenerasi desa berbasis spiritualitas dan teknologi yang mulai dilirik oleh kampus-kampus pertanian, kementerian, hingga lembaga internasional.
Padepokan Keraton Langit bahkan sedang merancang Kurikulum Tani Santri sebuah sistem pendidikan informal yang memadukan ilmu pertanian modern dengan nilai-nilai luhur pesantren dan budaya lokal.
“Indonesia butuh cara baru melihat desa. Dan kami ingin jadi salah satu lentera perubahan itu,” pungkas Kiai Abdul Adhim. (REDJAVA****)










