JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah semangat memperingati Hari Pahlawan Nasional, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pasongsongan dan Koordinator Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) se-Kecamatan Pasongsongan menorehkan makna baru perjuangan masa kini: menjadikan petani sebagai Pahlawan Pangan yang menjaga kedaulatan pangan daerah.
Langit Pasongsongan pagi itu bersaksi atas tekad para petani dan penyuluh yang berkumpul dalam forum koordinasi strategis di Balai Penyuluhan setempat. Tak hanya sekadar pertemuan rutin, agenda ini menjadi momentum menyatukan langkah antara pemerintah, penyuluh, dan petani dalam memperkuat ketahanan pangan di tengah tantangan iklim dan ekonomi yang kian dinamis.
Koordinator Penyuluh Pertanian BPP Pasongsongan, Ahmad Molyono, S.P., menegaskan bahwa perjuangan petani hari ini bukan lagi soal cangkul dan lumpur semata, melainkan soal kemandirian bangsa.
“Hari Pahlawan mengingatkan kita bahwa medan perjuangan kini ada di sawah dan ladang. Petani adalah garda terdepan yang memastikan rakyat tidak kelaparan. Karena itu, sinergi antara penyuluh dan Gapoktan adalah bentuk nyata penghormatan kepada pahlawan zaman ini,” kata Ahmad Molyono penuh semangat.
Sementara itu, Ketua Koordinator Gapoktan se-Kecamatan Pasongsongan, Masyuni Ramadhan, S.M., memandang langkah ini sebagai tonggak kebangkitan pertanian di wilayah pesisir utara Sumenep. Menurutnya, para petani Pasongsongan bukan hanya pekerja lapangan, melainkan penggerak ekonomi desa yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga dan daerah.
“Petani di Pasongsongan bukan sekadar menanam, mereka berjuang untuk hidup dan menghidupi. Dengan dukungan teknologi dan pembinaan dari BPP, kami yakin masa depan pertanian di daerah ini akan jauh lebih mandiri,” ujarnya kepada media ini, Senin (10/11/2025).
Dalam forum itu, disepakati tiga langkah utama: percepatan penerapan teknologi tepat guna, penguatan kelembagaan petani termasuk regenerasi petani muda, serta penyuluhan berbasis demplot dan field day untuk menampilkan inovasi nyata di lapangan.
Lebih lanjut, Masyuni menegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran kolektif petani untuk beradaptasi dengan zaman.
“Kalau dulu pahlawan berjuang dengan bambu runcing, sekarang petani berjuang dengan ilmu dan inovasi. Kami ingin menjadi bagian dari sejarah baru ketahanan pangan nasional,” pungkas Masyuni.
Sinergi antara BPP Pasongsongan dan Gapoktan ini menjadi simbol nyata bahwa semangat kepahlawanan tidak hanya hidup di medan perang, tetapi juga di sawah, ladang, dan kebun. Dari Pasongsongan, semangat perjuangan pangan itu terus tumbuh meneguhkan bahwa bangsa besar hanya bisa berdiri tegak di atas kemandirian petaninya. (REDJAVA****)











