JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Petani garam di Desa Karanganyar dan Desa Pinggir Papar, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, menghadapi kesulitan dalam menjalankan proses produksi garam akibat curah hujan yang masih terus turun hingga awal Juli 2024. Meskipun telah memasuki musim kemarau, hujan masih terjadi hampir setiap pekan, sehingga menghambat proses pengeringan garam di lahan tambak.
Bambang Junaidi, S.H., warga Desa Karanganyar Kecamatan Kalianget, menyampaikan keprihatinannya atas situasi ini.
“Biasanya, bulan Juni hingga Agustus adalah masa produksi utama bagi petani garam. Namun tahun ini, karena hujan terus turun, lahan tambak tidak bisa mengering sempurna. Ini membuat para petani bingung kapan harus mulai produksi,” ujarnya, Selasa (01/07/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan bahwa musim ini secara klimatologis dikategorikan sebagai musim kemarau basah, yaitu kondisi di mana curah hujan masih cukup tinggi meskipun secara kalender sudah memasuki musim kemarau. Fenomena ini disebabkan oleh anomali iklim dan tingginya kelembaban udara yang berdampak pada pembentukan awan hujan, terutama di wilayah pesisir selatan Madura.
Situasi ini membuat banyak petani harus menunda atau bahkan membatalkan proses produksi. Akibatnya, penghasilan mereka pun terganggu, sementara kebutuhan operasional terus berjalan. Beberapa petani bahkan mulai mengeluhkan potensi kerugian yang bisa terjadi jika cuaca tak segera membaik dalam waktu dekat.
Lebih lanjut, Bambang menyampaikan harapannya agar kondisi ini tidak berlarut-larut.
“Kami berharap ke depan, harga dan kualitas garam bisa terus meningkat, agar para petani garam di Sumenep semakin sejahtera. Produksi garam adalah tulang punggung ekonomi masyarakat di sini, dan sudah sepantasnya mendapatkan perhatian serius dari semua pihak,” pungkasnya.
Jika kondisi cuaca tidak segera stabil, dikhawatirkan akan berdampak pada pasokan garam lokal dan mengganggu rantai distribusi. Oleh karena itu, langkah antisipasi dari pemerintah daerah sangat diharapkan, baik dalam bentuk dukungan teknis, bantuan sosial, maupun perlindungan harga agar para petani tidak semakin terpuruk. (REDJAVA****)










