JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Di tengah debur ombak dan jauhnya jarak dari pusat layanan kesehatan, duka mendalam kembali menyelimuti warga kepulauan Sumenep. Suhani (50), warga Dusun Masalima, Kecamatan Masalembu, meninggal dunia di Surabaya setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya.
Namun perjalanan pulang ke kampung halaman bukan perkara mudah. Jasad almarhumah harus menempuh ratusan kilometer melalui darat dan laut, dengan biaya yang tidak kecil.
Melihat beban berat itu, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumenep hadir memberi solusi.
Melalui program Sumenep Peduli, Baznas menyalurkan bantuan biaya ambulans laut untuk pemulangan jenazah dari Pelabuhan Kalianget ke Pulau Masalembu sebuah ikhtiar kemanusiaan yang menjadi penopang terakhir perjalanan almarhumah ke tanah kelahirannya.
“Bantuan ini bagian dari amanah Bupati Sumenep agar Baznas tidak sekadar hadir di atas kertas, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan mendesak warga, terutama masyarakat di wilayah kepulauan yang aksesnya sangat terbatas,” ujar Ketua Baznas Sumenep, Ahmad Rahman, Sabtu (28/6/2025).
Rahman mengungkapkan, tantangan warga kepulauan dalam mengakses layanan kesehatan rujukan kerap tidak berhenti pada urusan medis.
Ketika ajal tiba di daratan, keluarga harus kembali berjuang untuk memulangkan jenazah melewati lautan sebuah proses yang menguras fisik, psikis, dan tentu saja finansial.
“Ongkos sewa ambulans laut bisa mencapai jutaan rupiah. Belum lagi waktu tempuh yang panjang dan kondisi gelombang laut yang kadang tidak bersahabat. Kami berharap bantuan ini sedikit meringankan duka dan beban keluarga almarhumah,” imbuhnya.
Sejauh ini, armada ambulans laut yang melayani pemulangan jenazah di wilayah Sumenep sangat terbatas. Bahkan untuk Kepulauan Kangean saja, hanya tersedia satu armada swasta khusus jenazah.
Kondisi ini semakin menegaskan pentingnya kehadiran negara dan lembaga sosial seperti Baznas dalam menjemput kebutuhan darurat masyarakat.
Busari, salah satu anggota keluarga almarhumah Suhani, menyampaikan apresiasi dan rasa haru atas kepedulian pemerintah daerah yang disalurkan melalui Baznas.
“Kami tidak tahu bagaimana nasib jenazah keluarga kami kalau tidak dibantu. Terima kasih kepada Bupati Sumenep dan Baznas, yang telah meringankan langkah kami membawa pulang ibu ke tanah kelahiran,” ujarnya.
Baznas Sumenep selama ini aktif dalam lima program unggulan berbasis kemaslahatan umat: bantuan pendidikan, kesehatan, sosial, kebencanaan, dan keagamaan.
Melalui Sumenep Peduli, lembaga ini menjadikan nilai-nilai zakat sebagai daya dukung nyata untuk menjangkau pelosok-pelosok Sumenep dari daratan hingga kepulauan yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
“Zakat bukan hanya angka dan laporan. Zakat adalah empati yang bergerak. Dan kami di Baznas akan terus memastikan bantuan itu tepat sasaran dan menyentuh sisi-sisi paling mendasar dari kebutuhan mustahik,” tutup Ahmad Rahman. (REDJAVA****)










