JAVANETWORKCO.ID.SUMENEP — Penguatan literasi di lingkungan pesantren menjadi perhatian serius dunia pendidikan. Sebanyak 35 santri bersama 4 ustadzah pendamping mengikuti Kegiatan Akhir Semester (KAS) Ganjil Tahun Pelajaran 2025–2026 dengan melakukan kunjungan edukatif ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sumenep, Senin (15/12/2025).
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah, Maisurah Febriani, sebagai bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman untuk mengenalkan santri pada tata kelola perpustakaan, baik secara manual maupun digital, yang relevan diterapkan di lingkungan pondok pesantren.

“Kami ingin santri memahami bahwa perpustakaan adalah pusat ilmu pengetahuan. Dengan melihat langsung pengelolaannya, mereka mendapatkan gambaran konkret bagaimana literasi dibangun secara sistematis,” kata Maisurah Febriani.
Menurutnya, pelayanan dan fasilitas yang disediakan Dispusip Sumenep memberikan kesan positif bagi rombongan. “Personilnya terbuka, komunikatif, dan melayani dengan baik. Ruangannya nyaman, kondusif, dan tertata rapi sehingga mendukung proses belajar,” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Dispusip Sumenep menyambut baik kunjungan tersebut. Pustakawan Ahli Muda Dispusip Sumenep, Drs. Syaiful Bahri, yang mewakili kepala dinas, menegaskan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia, termasuk di pesantren.

“Perpustakaan hari ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi sebagai pusat literasi dan pembelajaran sepanjang hayat. Pesantren memiliki peran penting dalam membangun tradisi keilmuan tersebut,” kata Syaiful Bahri kepada media ini.
Ia menambahkan, transformasi pengelolaan perpustakaan dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan lembaga pendidikan. “Pengelolaan bisa dimulai dari sistem manual yang tertib, kemudian dikembangkan ke arah digital. Dispusip Sumenep siap menjadi mitra pendamping bagi lembaga pendidikan yang ingin mengembangkan perpustakaannya,” ucapnya.
Kunjungan edukatif ini diharapkan mampu memperluas wawasan santri sekaligus mendorong lahirnya perpustakaan pesantren yang adaptif, berkelanjutan, dan relevan dengan perkembangan zaman. (REDJAVA****)












