JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Mengawali hari pertama Ramadan 1447 Hijriah, Kepala Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Sumenep, Aditya Wahyu Rahmadani, memilih turun langsung ke jantung pelayanan: dapur rutan.
Pihaknya memastikan menu sahur bagi ratusan warga binaan disiapkan sesuai standar kebersihan, gizi, dan kelayakan konsumsi, Kamis (19/02/2026).
Langkah itu bukan sekadar inspeksi rutin. Bagi Aditya, momentum Ramadan menjadi ujian konsistensi pelayanan pemasyarakatan, terutama dalam pemenuhan hak dasar warga binaan.
Didampingi petugas dapur, Aditya menelusuri setiap tahapan proses. Mulai dari pengecekan bahan makanan memastikan kesegaran sayur, kualitas protein, hingga masa kedaluwarsa bumbu hingga mengamati langsung proses pengolahan dan standar sanitasi ruang dapur.
Ia juga memeriksa tahap akhir penyajian untuk memastikan makanan tersaji dalam kondisi higienis dan layak santap saat waktu sahur tiba.
“Ramadan adalah momentum ibadah yang membutuhkan kesiapan fisik. Karena itu kami ingin memastikan makanan yang diterima warga binaan benar-benar sehat, cukup gizinya, dan diproses sesuai standar kebersihan,” ujar Aditya di sela-sela kontrol dapur, Kamis (19/02/2026).
Menurutnya, kualitas makanan bukan sekadar aspek teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan profesional lembaga pemasyarakatan.
Ia menegaskan bahwa pelayanan yang baik, termasuk dalam penyediaan konsumsi, merupakan hak warga binaan yang harus dipenuhi tanpa kompromi.
Pengawasan tersebut juga menjadi bagian dari kontrol internal untuk menjaga stabilitas layanan selama bulan suci. Ramadan kerap menghadirkan dinamika tersendiri dalam pengaturan jadwal makan dan aktivitas warga binaan, sehingga kesiapan dapur menjadi aspek krusial.
“Kami tidak ingin ada celah dalam pelayanan, apalagi di bulan suci. Kontrol ini adalah bentuk komitmen kami agar seluruh proses berjalan sesuai SOP dan warga binaan dapat menjalankan ibadah puasa dengan tenang serta dalam kondisi sehat,” tegasnya.
Dengan pengawasan langsung pimpinan, Rutan Sumenep berupaya memastikan pelayanan tetap optimal sepanjang Ramadan.
Di balik tembok pembatas, hak untuk menjalankan ibadah dengan layak dan bermartabat tetap menjadi prioritas. (REDJAVA****)












