ASTA PANAONGAN – PASONGSONGAN SUMENEP

Senin, 5 Agustus 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana Saat Budayawan Sumenep Tadjul Arifin R Memantau Asta Panaongan di Kecamatan Pasongsongan Sumenep

Suasana Saat Budayawan Sumenep Tadjul Arifin R Memantau Asta Panaongan di Kecamatan Pasongsongan Sumenep

JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – (Seri Wisata Religi) Makam/kuburan atau Asta Panaongan bagi ahli sejarah memang aneh. Karena ada kuburan Islam abad ke XIII di Sumenep, di era pasca pemerintahan Arya Wiraraja, yang hampir sama dengan usia makam Fatimah binti Maimun di Leran Gresik, yang berangka tahun 1082 m atau era Prabu Airlangga.

Kalau melihat kaligrafi Arab tentang keberadaan tahun yg telah diteliti oleh Badan Arkeologi Islam Jakarta (22 April 2000), maka dapat dipertanggung jawabkan bahwa angka yang tertera pada batu nisannya betul.

Setelah saya kaji pada literatur yg antara lain :
~ Sejarah Islam – A Latief Osman (1950)
~ Sekitar Walisongo – Sholihin Salam (1960)
~ Sejarah Kebangkitan Islam – Saifuddin Zuhri (1981)
~ Sejarah & Kebudayaan Islam – Prof DR A Salaby
~ Muslim di tengah Pergumulan – KH Abdurrahman Wahid (1981)
~ Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa (1985)
~ Arkeologi Islam Nusantara – Uka Tjandrasasmita (2009)
~ Islam di Asia Tengah – Muh Abd Azhim Abu An-Nashr (2009)
~ Islam dalam arus Sejarah Indonesia – Jajat Burhanuddin (2017)
~ Sejarah Kebudayaan Islam di Asia Tenggara – DR H Saifullah, SA. MA (2010)
~ Keturunan Nabi Muhammad SAW – Idrus Alwi al-Mansyur (2010)
~ Orang Arab di Nusantara – LWC van den Berg (2010)
~ Atlas Walisongo – Prof Dr KH Agus Sunyoto (2008) yg saya miliki.

Baca Juga :  Sustainable Tourism in Bali: Balancing Preservation and Growth

Maka dapat kesimpulan bahwa, orang Arab waktu sejak sekitar sesudah masa Rasulullah SAW banyak yang merantau keliling Asia tenggara termasuk pergi ke Nusantara untuk berdagang.

Jadi route pelayaran yakni masuk ke Perlak (Sumatera) pantai utara pulau Jawa lalu ke Gresik terus menyebrang ke Makassar. Sampai laut Jawa, di Perairan Masalembu kena badai hingga mendarat di Panaongan Pasongsongan Kabupaten Sumenep.

Baca Juga :  Ketum Fast Respon Nusantara (FRN) Terima Aduan Masyarakat Tentang Korupsi Dan Penyalahgunaan Jabatan

Dengan artian Panaongan dari ombâ’ (cerita tutur). Disana mereka menetap sementara yang kemudian melanjutkan perjalanannya kearah timur.

Dalam mukimnya tersebut di sekitar abad ke XIII, maka ada keluarga yg meninggal dan dikuburkan disitu, Yakni Syekh Abu Zukri (1281), Syekh Al Arief Abu Said (1292) dan Kyai Ruwiyah (1328).

Setelah periode kedua sekitar abad ke XIX datang lagi orang Arab kesana untuk ziarah pada leluhurnya, dan terus bermukim untuk menyebarkan agama Islam dengan mendirikan pedukuhan semacam pesantren.

Baca Juga :  Pengangkatan Menteri Baru, Presiden : Kita Lihat Pengalaman dan Rekam Jejak

Terbukti dengan adanya kuburan lanjutan yakni : Nyi Ummu Nanti (1828 m) dan Sarmi (1847 m), dan yang lain tidak ada angka tahunnya. Dan keduanya pakai nama lokal, berarti orang Arab pendatang tersebut kawin dengan orang lokal.

Di suatu waktu di sekitar Panaongan atau Pasongsongan dilanda pagebluk pandemi penyakit menular (penyakit Ta’oun) maka semuanya mengungsi keluar desa. Menurut cerita tutur mereka mengungsi ke Tambaagung Ambunten yang kampungnya diberi nama Po’-tompo’, Karena para pengungsi atompo’ di kampung tersebut.

Dan selanjutnya mendirikan pedukuhan (pesantren) disana sampai pada keturunannya. (Wallahu a’lam bissawab)
Sejarah detail tulisan pribadi, ada pada penulis.

Penulis :
Tadjul Arifien R Budayawan Sumenep, Senin (05/08/2024). (REDJAVA****)

Berita Terkait

Hadiri Turnamen Bola Kasti HUT ke-60 Korem 084/Bhaskara Jaya, Staf Ahli Bupati Sumenep: Olahraga Tradisional Harus Terus Hidup
HUT Ke-60 Korem 084 Jadi Momentum Kebangkitan Bola Kasti di Sumenep, Dandim Sampaikan Pesan Ini
Bangun Generasi Tertib Berlalu Lintas, Satlantas Polres Sumenep Hadirkan Police Goes to School di MAN Sumenep
Harkopnas 2026, Bupati Sumenep Tegaskan Koperasi Modern Kunci Kemajuan UMKM
Moh. Ramli: Harkopnas 2026 Perkuat Peran Koperasi untuk Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Prestasi Membanggakan, KPRI RSUD Sumenep Raih Predikat Koperasi Sehat di Hari Koperasi ke-79
Penjual Tahu Bulat Ditemukan Meninggal di Kamar Kos Desa Gunggung, Ini Hasil Penyelidikan Awal Polisi
BMKG: Mayoritas Jawa Timur Cerah, Sumenep Jadi Wilayah yang Perlu Waspadai Angin Kencang

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 19:29 WIB

Hadiri Turnamen Bola Kasti HUT ke-60 Korem 084/Bhaskara Jaya, Staf Ahli Bupati Sumenep: Olahraga Tradisional Harus Terus Hidup

Kamis, 16 Juli 2026 - 18:12 WIB

HUT Ke-60 Korem 084 Jadi Momentum Kebangkitan Bola Kasti di Sumenep, Dandim Sampaikan Pesan Ini

Kamis, 16 Juli 2026 - 17:41 WIB

Bangun Generasi Tertib Berlalu Lintas, Satlantas Polres Sumenep Hadirkan Police Goes to School di MAN Sumenep

Kamis, 16 Juli 2026 - 15:48 WIB

Harkopnas 2026, Bupati Sumenep Tegaskan Koperasi Modern Kunci Kemajuan UMKM

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:02 WIB

Prestasi Membanggakan, KPRI RSUD Sumenep Raih Predikat Koperasi Sehat di Hari Koperasi ke-79

Berita Terbaru