JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Komitmen terhadap pendidikan lingkungan hidup kembali ditunjukkan SMK Al Karimiyyah Sumenep. Pada momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2025, sekolah ini menghadirkan dua agenda penting: sosialisasi program Sedekah Sampah dan pengenalan budidaya maggot sebagai solusi pengelolaan sampah organik.
Sosialisasi yang berlangsung di aula sekolah pada Sabtu, 19 Juli 2025 ini diisi langsung oleh Founder Asa Sociopreneur, Machallafri Iskandar, serta praktisi budidaya maggot, Ainur Rahman.
Machallafri Iskandar, yang akrab disapa Afri, memaparkan materi terkait persoalan sampah dan upaya pengelolaannya secara bijak. Ia memperkenalkan program Sedekah Sampah, yang telah berjalan selama lebih dari empat tahun di SMK Al Karimiyyah dan telah menghasilkan manfaat nyata, termasuk beasiswa bagi siswa berprestasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Hari ini saya kembali diminta untuk berbagi bersama adik-adik siswa baru terkait pengelolaan sampah, terutama program Sedekah Sampah yang sudah lama berjalan di sini,” ujar Afri.
Dalam presentasinya, Afri juga menayangkan sejumlah foto dan video dokumenter tentang kondisi faktual persoalan sampah. Ia menekankan pentingnya kesadaran individu dalam memilah dan membuang sampah pada tempatnya.
“Kalau belum bisa memilah sampah, setidaknya bisa disiplin membuang pada tempatnya dan mengajak orang lain untuk melakukan hal serupa,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SMK Al Karimiyyah, Fendi Susanto, menyatakan bahwa kerja sama dengan Asa Sociopreneur merupakan bagian dari komitmen sekolah untuk membangun kesadaran lingkungan di kalangan pelajar sejak dini.
“Kami rutin mengundang Asa Sociopreneur setiap MPLS sebagai bentuk komitmen kami terhadap edukasi isu lingkungan. Program Sedekah Sampah telah memberi manfaat nyata dalam bentuk beasiswa, dan kami berharap lebih banyak sekolah bergabung,” ujar Fendi.
Masih dalam rangkaian MPLS, SMK Al Karimiyyah juga menggandeng Ainur Rahman, praktisi budidaya maggot dari Kabupaten Sumenep. Dalam sesi tersebut, Ainur memperkenalkan budidaya maggot sebagai solusi pengelolaan sampah organik yang efektif dan bernilai ekonomis.
“Sampah organik dari sekolah dan lingkungan pesantren ini sangat potensial untuk dikelola. Kami mendorong sekolah untuk menginisiasi rumah maggot sebagai model pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” tutur Ainur.
Ia juga menyesalkan masih maraknya perilaku membuang sampah sembarangan, termasuk di kalangan generasi muda.
“Budidaya maggot bisa menjadi langkah konkret dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. Dengan praktik langsung di sekolah, siswa bisa lebih paham dan terlibat aktif,” pungkasnya.
Kegiatan MPLS 2025 di SMK Al Karimiyyah ini menjadi bukti sinergi antara dunia pendidikan, komunitas lingkungan, dan praktisi lapangan dalam mendorong kesadaran ekologis di kalangan pelajar. (REDJAVA****)










