JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Di tengah gempuran era digital dan derasnya arus konten kreatif, siapa sangka produk lokal seperti bawang goreng “Akenyem” bisa mencuri perhatian?.
Itulah yang sedang diupayakan tim dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Wiraraja (Unija) dalam sebuah gebrakan cerdas: membawa UMKM tradisional menuju panggung digital nasional lewat platform TikTok.
Dalam kegiatan yang digelar pada 23 Juni 2025 lalu, para akademisi ini tak sekadar memberi ceramah atau presentasi biasa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka turun tangan langsung, membimbing pelaku UMKM “Akenyem” agar mampu mengeksekusi strategi pemasaran berbasis visual storytelling, menciptakan konten pendek yang relate, dan memahami algoritma TikTok platform yang kini jadi “etalase” utama pasar anak muda Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari skema hibah pengabdian berbasis riset terapan yang digulirkan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI tahun 2025.
Dengan pendekatan kolaboratif, kegiatan ini tak hanya menargetkan hasil instan, tetapi perubahan jangka panjang: menjadikan UMKM lokal melek digital, kreatif, dan mandiri dalam mengelola citra brand-nya.
Anis Kurli, dosen DKV Unija sekaligus ketua tim pelaksana, menyebut bahwa pendekatan mereka berakar pada design thinking dan pemetaan kekuatan lokal.
“Akenyem bukan sekadar produk bawang goreng. Ia punya cerita, rasa, dan akar budaya. Kami ingin itu tampil di layar, dirasakan followers, dan diperbincangkan publik,” ujarnya.
Dalam sesi pelatihan, pelaku UMKM dikenalkan pada ekosistem digital yang dinamis. Mereka belajar membuat konten yang tak sekadar menarik, tapi juga engaging dan authentic.
Mulai dari cara pengambilan gambar yang estetis, pemilihan backsound yang tepat, hingga trik memanfaatkan tren TikTok tanpa kehilangan identitas produk lokal.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana kampus bukan hanya menara gading, tapi dapat menjadi mercusuar perubahan sosial-ekonomi berbasis komunitas.
“Kami ingin membuktikan bahwa akademisi bisa relevan, bisa hadir, dan bisa berdampak langsung bagi pelaku usaha di akar rumput,” pungkas Anis. (REDJAVA****)









