JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di antara sunyi Musholla Nur Muhammad, Dusun Benusan, Desa Batu Putih Laok, Kecamatan Batu Putih, Sabtu sore itu tak hanya suara doa yang menggema. Ada isak haru yang tak bisa disembunyikan.
Ada pelukan, senyum kecil, dan mata berbinar dari puluhan anak yatim dan piatu yang seolah baru saja diingatkan: mereka tidak sendiri.
Melalui tangan lembut komunitas Kita Berbagi Sosial (KBS) Kabupaten Sumenep, cinta dan kepedulian kembali dihidupkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebuah kegiatan santunan anak yatim-piatu digelar penuh kehangatan dan kemuliaan, menghadirkan harapan bagi mereka yang kehilangan orang tua, tetapi tidak kehilangan kasih sayang.
Rp8.328.000 berhasil dikumpulkan dari para dermawan, lalu disalurkan dalam bentuk santunan dan berbagai bingkisan kebutuhan. Bantuan tersebut mencakup:
– 100 amplop uang saku
– 36 kotak kue
– 40 nasi kotak
– 25 paket beras 3 kg
– 25 kg gula pasir
– 25 revil kecap
– 25 liter minyak goreng
– 25 paket buku tulis dan alat tulis lengkap (pensil, bolpoin, penggaris, crayon)
– 25 tas gendong
– 25 buku gambar
– 40 paket snack
– 2 dus air mineral
– 100 bungkus mi instan
“Ini bukan soal nilai bantuannya. Tapi bagaimana cinta itu tetap hadir, meski orang tua mereka telah tiada. Kami hanya menjembatani kebaikan para donatur,” kata Ahmad Zahruddin, perwakilan KBS, kepada media ini, Minggu (24/05/2025).
Dirinya menambahkan, kegiatan ini juga menjadi momentum reflektif bagi siapa saja yang hadir.
“Mereka bukan hanya membutuhkan nasi dan buku. Mereka butuh pelukan. Butuh diyakinkan bahwa mereka tetap berarti, tetap berharga,” imbuhnya.
Kegiatan ini sontak menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan masyarakat. Banyak warganet membagikan momen ini di media sosial dengan penuh empati dan apresiasi.
Spirit gotong royong dan kepedulian sosial yang mulai memudar, kembali dinyalakan oleh langkah kecil namun berdampak besar dari komunitas KBS.
Di tengah hiruk-pikuk zaman yang kerap melupakan sisi kemanusiaan, kegiatan ini menjadi oase.
Sebuah pengingat bahwa kepedulian bukan hanya milik yang kaya, tapi milik setiap hati yang masih hidup dan mau menyentuh sesama.
“Semoga dari Musholla kecil di pelosok Batu Putih ini, cinta dan kepedulian terus menjalar luas ke penjuru Sumenep bahkan ke seluruh negeri,” pungkas Ahmad Zahrudin.(REDJAVA****)








